RADARTUBAN – Gedung Museum Kambang Putih Tuban sudah waktunya untuk diperluas. Itu menyusul bertambahnya jumlah koleksi benda bersejarah yang dimiliki museum daerah tersebut.
Lantaran minimnya ruang yang tersedia, tidak semua benda koleksi bersejarah ter-display.
‘’(Karena tidak mendapat ruang, Red), makanya untuk benda-benda sejarah Islam ini penataannya mepet-mepet dengan yang lain,’’ ujar Gilang, orator Museum Kambang Putih Tuban.
Beberapa koleksi lain juga terpaksa disimpan karena tidak kebagian tempat.
Disampaikan Gilang, saat ini jumlah koleksi benda bersejarah di museum yang terletak di Jalan KH Mustain itu sebanyak 5.774 benda dari peninggalan masa praaksara, masa klasik Hindu-Budha, dan masa Islam.
Benda-benda bersejarah itu tersimpan dalam ruang-ruang tertentu.
Beberapa ruang yang berada di Museum Kambang Putih adalah ruangan etnografi, ruangan keramik, ruangan numismatika, ruang benda bersejarah Islam, ruang kesenian dan ruang fosil praaksara.
‘’Letak ruang-ruang itu diurut sesuai zamannya. Misalnya, ruang praaksara, maka di taruh di bagian paling depan, seperti sarkofagus yakni peti mati dan ada juga watu tiban.
Itu paling tua,’’ katanya.
Selain itu, lanjut dia, ada benda-benda keramik yang terdiri dari botol Eropa, piring yang dulunya digunakan untuk menghias cungkup makam Sunan Bonang dan bertuliskan huruf arab.
‘’Nah, memasuki ruangan selanjutnya terdapat benda paling monumental, yakni kalpataru,’’ jelasnya.
Dijelaskan Gilang, Kalpataru merupakan benda di Museum Kambang Putih yang menjadi pusat perhatian pengunjung.
Kalpataru merupakan benda penyangga atau soko tunggal pada pendopo yang berada di kompleks Makam Sunan Bonang. ‘’Jadi, ini peninggalan masa Sunan Bonang,’’ paparnya.
Menariknya, benda tersebut sekilas seperti pohon biasa namun diukir dengan berbagai motif flora dan fauna, serta berbagai tempat peribadatan empat agama, seperti Islam, Hindu, Budha dan Tri Dharma.
‘’Bagian dari simbol toleransi juga,’’ tandasnya.
Adapun koleksi benda bersejarah yang baru masuk adalah keris. Hanya saja, dikatakan dia, keris masih dalam tahap konservasi, jadi belum di-display.
‘’Masih dibersihkan, dipastikan keamanannya baru di-display,’’ ujar pria yang sudah bekerja di Museum Kambang Putih selama delapan tahun itu. (gik/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama