Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Buruh Driver JPA UTSG Tuban Ancam Lumpuhkan Perusahaan Jika Tuntutannya Tidak Diindahkan

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 23 April 2025 | 00:06 WIB

 

Aksi demonstrasi ratusan buruh JPA PT UTSG menolak kebijakan perusahaan yang dinilai tak adil dan tak manusiawi, kemarin (21/4).   
Aksi demonstrasi ratusan buruh JPA PT UTSG menolak kebijakan perusahaan yang dinilai tak adil dan tak manusiawi, kemarin (21/4).  

RADARTUBAN – Amarah buruh PT United Tractors Semen Gresik (UTSG) menyusul kontrak kerja yang dinggap tidak manusiawi, akhirnya membuncah kemarin (21/4).

Ratusan driver jasa pengelola alat (JPA) PT UTSG menggelar aksi unjuk rasa di kantor perusahaan setempat.

Ratusan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) itu menuntut kontrak kerja menggunakan sistem perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

Juga, mendesak perusahaan memberikan upah sesuai dengan upah minimun sektoral kabupaten (UMSK)—sebagaimana kontrak sebelumnya.

Kacung Eko Yuwono, salah satu peserta aksi mengungkapkan, selama ini sistem pengupahan rental tidak menjamin kesejahteraan para driver JPA.

Mereka dibayar menggunakan sistem borongan.

Sistem ini, tegas dia, memungkinkan driver tidak menerima upah sepeser pun jika terdapat kendala teknis atau ketika mengambil cuti sakit.

‘’Pun upahnya hanya dihitung sesuai tonase, yakni Rp 700 per ton. Sistem ini sangat tidak adil dan tidak manusiawi,’’ katanya.

Namun, tegas Kacung, selama ini pihak manajemen UTSG selalu menghindar dan tak memberikan jawaban pasti mengenai kekhawatiran nasib para buruh.

‘’Setiap kali berunding, perusahaan sering kali mengirimkan perwakilan yang tak memiliki wewenang, sehingga tidak pernah ada solusi yang adil untuk masa depan para driver JPA,’’ ujarnya.

Sementara itu, Ketua FSPMI Tuban Duraji membenarkan bahwa selama mediasi berlangsung, pihak PT UTSG selalu berbelit dan tidak pernah memberikan solusi.

‘’Kami masih akan bertahan sampai para driver JPA ini menerima hak-hak yang sesuai dengan kontrak sebelumnya (uang lembur, premi, uang makan, dan lainnya, Red), dan tentunya lebih manusiawi,’’ tegasnya.

Duraji mengungkapkan, pihaknya akan terus melawan dan memberikan ultimatum hingga PT UTSG memenuhi tanggung jawab dan hak-hak para driver JPA.

Atas kontrak yang dianggap tidak manusiawi tersebut, 137 driver JPA telah mengambil keputusan tegas, yakni menghentikan aktivitas secara serentak.

‘’Jika itu yang terjadi, operasional UTSG berpotensi mengalami gangguan, bahkan lumpuh total,’’ tandasnya.

Hingga berita ini ditulis, pihak PT UTSG memilih untuk bungkam dan enggan memberikan sedikitpun pernyataan pada awak media. (saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #driver #UTSG #Tonase #unjuk rasa