RADARTUBAN – Sebanyak 42 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) angkatan 2022 dari Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban melaksanakan kunjungan edukatif ke kantor Jawa Pos Radar Tuban pada Rabu (23/4).
Kegiatan ini bertujuan memperluas wawasan mahasiswa seputar dunia jurnalistik dan pentingnya literasi digital.
Didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah, Salimullah Tegar Sanubarianto, M.Pd., atau yang akrab disapa Pak Salim, rombongan tiba di kantor redaksi pada pukul 09.00 WIB.
Mereka disambut hangat oleh Yudha Satria, Manajer Digital Jawa Pos Radar Tuban, yang memulai kegiatan dengan perkenalan dan pemaparan singkat mengenai lingkungan kerja di redaksi.
Kegiatan berlanjut di lantai dua, di mana mahasiswa mengikuti diskusi interaktif bersama Ahmad Atho’illah, jurnalis senior sekaligus redaktur pelaksana Radar Tuban.
Baca Juga: Unirow Tuban Resmi Miliki 7 Bidang Studi PPG
Diskusi dibuka dengan pertanyaan seputar kebiasaan membaca mahasiswa masa kini.
Dalam pandangannya, Mas Athok menyoroti kecenderungan generasi muda yang lebih gemar menggulir media sosial daripada membaca buku, yang berdampak pada pola pikir instan dan berkurangnya kemampuan mencerna narasi panjang.
"Mindset kita sekarang terbentuk hanya untuk menangkap informasi singkat. Media sosial membekukan otak kita untuk tidak lagi menyukai proses panjang seperti membaca buku," ungkapnya.
Dia menambahkan, generasi sebelumnya yang hidup tanpa kemudahan digital seperti ATM atau QRIS, justru mampu mengoleksi ratusan buku.
Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tak selalu berbanding lurus dengan peningkatan budaya literasi.
Mas Athok juga membahas fenomena generasi muda yang kerap berpindah pekerjaan. Menurutnya, alasan mencari pengalaman sering kali merupakan bentuk ketidaksabaran dalam menjalani proses.
“Itu hanya alasan alam bawah sadar dari teman-teman yang belum mencintai proses,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menggarisbawahi pentingnya membiasakan diri membaca teks panjang untuk membentuk sikap skeptis terhadap informasi yang diterima, terutama di era banjir informasi seperti sekarang.
“Orang yang tidak terbiasa membaca narasi panjang akan cenderung mudah percaya dan langsung menyebarkan informasi tanpa verifikasi. Ini membahayakan,” jelasnya.
Mas Athok juga menyinggung soal dominasi media sosial dalam membentuk karakter instan pada generasi muda.
Menurutnya, hal ini membuat mereka tidak lagi memahami proses panjang seperti menanam hingga panen, atau bekerja keras untuk mendapatkan hasil.
Tak kalah penting, dia menekankan pentingnya penguasaan materi sebelum melakukan wawancara jurnalistik agar tidak terjadi momen “kering” atau kehabisan bahan.
Sementara itu, Salim menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan kali ketiga PBSI Unirow ke Radar Tuban.
Dia mengaku senang melihat semangat dan antusiasme mahasiswanya.
“Ada binar-binar di mata mereka, itu yang saya rindukan. Dunia kalian tidak berhenti ketika wisuda, justru dunia nyata baru dimulai setelahnya,” ujarnya penuh harap.
Kunjungan ini diharapkan mampu menjadi bekal berharga bagi mahasiswa PBSI Unirow yang bercita-cita menjadi jurnalis atau praktisi literasi di masa depan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama