Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Apa Itu Janggrung, Mengenal Akar Pertunjukan Tayub di Tuban yang Semakin Terlupakan

M. Afiqul Adib • Sabtu, 26 April 2025 | 00:25 WIB
Mengenal seni Langen Tayub Tuban lebih jauh.
Mengenal seni Langen Tayub Tuban lebih jauh.

RADARTUBAN - Di tengah gemuruh panggung tayub yang sering kita saksikan di Tuban, ada satu seni tradisi yang sering luput dari perhatian: Janggrung.

Menurut penuturan salah satu waranggono saat berdiri di atas pentas, Janggrung ini sebenarnya adalah cikal bakal dari tayub yang kita nikmati sekarang.

Jejak Sejarah dari Zaman Kolonial

Berdasarkan keterangan Sumardi, Kabid Kebudayaan Disbudporapar Tuban, Janggrung sudah menjejakkan kaki sejak masa kolonial.

Bayangkan, ketika kereta uap masih melintas perlahan di rel-rel kayu, masyarakat Tuban sudah berkumpul menggelar pertunjukan yang melibatkan lagu, musik, dan gerak tubuh.

Seiring perjalanan waktu, nama Janggrung perlahan bergeser menjadi Langen Tayub, istilah yang kini lebih umum kita dengar.

Tiga Pilar Utama Janggrung

Dalam Janggrung terdapat tiga elemen pokok yang saling melengkapi:

1. Sindir (atau waranggono):

Sosok yang bertugas membawakan lagu—gending-gending khas yang berisi kisah cinta, nasihat masyarakat, atau sekadar sindiran halus kepada penonton.

Tanpa sindir, panggung Janggrung akan sunyi karena dia yang memulai segala alunan.

2. Pengibing (dulu disebut mayal):

Penari-penari yang menari di tengah panggung.

Gerakan mereka biasanya luwes, mengikuti irama sindir, sambil sesekali berinteraksi dengan penonton—sesuatu yang kemudian jadi ciri khas tayub.

3. Panjak

Kelompok pemain musik pengiring. Mereka memegang kendang, siter, gitar, dan instrumen tradisional lain untuk mengokohkan ritme.

Tanpa panjak, sindir dan pengibing bak istri tanpa suami—masing-masing ada, tapi tak ada yang melengkapi.

Transformasi Jadi Tayub

Kenapa Janggrung berubah wujud jadi tayub? Seiring kebutuhan hiburan masyarakat, elemen hiburan dalam Janggrung berkembang.

Interaksi penonton makin terbuka, lagu-lagu semakin variatif, dan penari (pengibing) makin aktif mengajak penonton menari.

Dari situlah muncullah istilah Langen Tayub—“langen” dalam bahasa Tuban bermakna gentar atau merinding (karena asyiknya), dan “tayub” merujuk pada tari yang menghibur.

Keunikan Lokal yang Wajib Dilestarikan

Bagi warga Tuban, Janggrung bukan cuma tontonan; dia adalah bukti bahwa kebudayaan lokal dapat menyesuaikan diri tanpa kehilangan akar.

Generasi tua bisa bernostalgia dengan gending-gending asli, sementara generasi muda bisa merasakan sentuhan modern dalam musik dan kostum. Dengan begitu, warisan ini tidak mati, melainkan tumbuh bersama perkembangan zaman.

Menjaga Akar, Merayakan Wajah Baru

Hari ini, bila kamu menikmati pertunjukan tayub di suatu acara desa atau pesta rakyat, sempatkan melirik ke belakang panggung.

Di sana, mungkin masih ada waranggono yang membunyikan gending klasik Janggrung, penari yang dengan cekatan mengikuti irama yang diwariskan leluhur, dan musisi yang setia memukul kendang sebagaimana nenek moyang mereka.

Merawat Janggrung berarti merawat ingatan kolektif Tuban—bahwa hiburan yang menyehatkan jiwa bisa lahir dari akar tradisi.

Jadi, kapan pun kamu berada di sisi panggung tayub, ingatlah: di situlah Janggrung berdenyut, menunggu untuk selalu dikenang dan dilestarikan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #janggrung #kolonial #Tayub #sejarah #Disbudporapar