RADARTUBAN - Kalau kamu jalan-jalan ke Tuban dan cari jajanan yang beneran unik, pembuat ampo Tuban ini menarik untuk dikunjungi.
Jadi jangan cuma berhenti di legen. Coba deh kenalan sama Ampo, camilan tradisional yang sekilas mirip gulungan cokelat, tapi dibuat dari tanah liat murni!
Iya, di Tuban, tanah bukan saja identik dengan sengketa, melainkan cemilan. Eits, jangan langsung ilfeel dulu.
Tanah liat untuk ampo ini bukan sembarang tanah. Harus tanah pilihan: bersih, halus, bebas batu dan pasir.
Setelah itu, tanahnya diolah dengan teknik tradisional: dihaluskan, dipadatkan, digulung, lalu dipanggang tanpa campuran apa pun.
Hasilnya, tercipta stik-stik kecil berwarna hitam kecoklatan yang siap disantap.
Ampo bukan cuma sekadar makanan iseng. Sejak zaman penjajahan dan masa paceklik dulu, camilan ini sudah jadi bagian dari kehidupan masyarakat Tuban.
Selain dimakan langsung, ampo juga sering dipakai buat menghilangkan rasa pahit daun pepaya saat dimasak. Multifungsi banget, kan?
Nah, salah satu sosok yang masih setia menjaga tradisi ini adalah Mbah Rasimah, warga Jl. Ngasinan, Banaran, Bektiharjo, Semanding, Tuban.
Beliau adalah generasi kelima dari keluarganya yang melestarikan pembuatan ampo. Bayangin aja, di usia senjanya, Mbah Rasimah masih sanggup produksi 10 kilogram ampo setiap hari!
Dengan penuh ketelatenan, beliau menggulung tanah-tanah halus itu satu per satu. Kerennya lagi, ampo buatannya dijual dengan harga sangat terjangkau, cuma Rp 10 ribu per kilogram.
Bagi yang mau cari langsung, bisa mampir ke rumah beliau atau beli di Pasar Baru Tuban. Di Google Maps, tinggal cari aja “Tempat Pembuatan Ampo”.
Menurut Mbah Rasimah, ampo paling nikmat disantap barengan secangkir kopi.
Ada rasa khas yang katanya bikin nostalgia zaman dulu, terutama buat orang-orang Tuban asli.
Selain itu, masyarakat sekitar juga mempercayai ampo bisa membantu mengatasi masalah perut dan gatal-gatal.
Bahkan, dalam beberapa upacara adat, ampo digunakan sebagai sesaji.
Sekilas, ampo mungkin terdengar aneh di telinga orang luar. Tapi buat warga Tuban, ampo itu bagian dari identitas. Sederhana, membumi, tapi penuh makna.
Di zaman serba modern kayak sekarang, makanan tradisional kayak ampo makin langka. Jadi, kehadiran Mbah Rasimah dan dedikasinya melestarikan camilan tanah liat ini patut banget dihargai.
Bukan cuma soal mempertahankan rasa, tapi juga soal menjaga warisan budaya supaya nggak hilang ditelan zaman.
Jadi, kapan mau cobain ampo barengan kopi kayak kata Mbah Rasimah? (*)
Editor : Yudha Satria Aditama