RADARTUBAN – Kabupaten Tuban diprediksi bakal membutuhkan tenaga kerja di sektor minyak dan gas bumi (migas) cukup banyak.
Itu menyusul berdirinya sejumlah perusahaan migas dan kilang minyak di Kota Legen.
Di antaranya, PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) dan PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI).
Sebagaimana diketahui, khusus PRPP masih dalam progres pembangunan dan TPPI berencana melakukan pengembangan dengan mendirikan perusahaan baru berupa proyek pembangunan pusat produksi olefin.
‘’Untuk menghadapi itu semua (kebutuhan tenaga kerja, Red) Disnakerin akan membuka pelatihan kerja,’’ kata Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Tuban Rohman Ubaid.
Rencananya, terang Ubaid, Disnakerin akan bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) Cepu dalam menggelar pelatihan.
‘’Selama ini sudah dilakukan pelatihan forklift, rigger, atau pembersihan sumur gas. Juga dibuka pelatihan keamanan las di Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Tuban, serta beberapa pelatihan lain,’’ terang dia.
Disampaikan Ubaid, antusiasme masyarakat yang ingin mengikuti pelatihan tersebut sangat tinggi.
‘’Seperti awal tahun ini, ketika kami buka latihan di PPSDM Migas pesertanya seribu lebih, padahal kuota pelatihannya hanya 300-an,’’ bebernya.
Mengingat peminat yang tinggi tersebut, lanjut Ubaid, ada pertengahan tahun ini akan dibuka kembali pelatihan.
Seperti pelatihan sebelum-sebelumnya, pelatihannya akan menyesuaikan dengan potensi industri yang berjalan.
‘’Harapannya, ketika ada kebutuhan tenaga kerja teknis tidak lagi mengambil dari luar kota, tetapi cukup warga lokal sudah mumpuni. Ini juga untuk mewujudkan apa yang ditargetkan Mas Bupati untuk menyiapkan 10 ribu sampai 20 ribu tenaga kerja pada 2026 mendatang,’’ pungkasnya.
Sementara itu, Sekda Tuban Budi Wiyana mengatakan, selain menyiapkan SDM dengan pelatihan dari Disnakerin yang penting dilakukan adalah menjaga kondusifitas.
Sehingga investor tidak segan-segan masuk dan membuka industri, sehingga bisa menyerap banyak tenaga kerja.
‘’Maka pentingnya koordinasi yang baik dengan semua pihak, sehingga iklim investasi yang baik itu bisa terwujudkan,’’ imbuhnya.
Langkah awal yang baik tersebut, terang Budi, sudah dimulai pada saat peringatan Hari Buruh 1 Mei lalu.
Antara perusahaan, buruh dan pemerintah bisa berkolaborasi, sehingga demonstrasi tidak terjadi.
‘’Itu sudah menunjukkan bagaimana kondusifitas bisa terjaga. Dan saat ini sudah ada beberapa perusahaan baru yang akan mendirikan pabrik baru,’’ ujarnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama