Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menyoal Banjir di Sejumlah Desa di Kecamatan Palang Tuban yang Terus Terulang: Kerusakan Alam dan Budaya Buang Sembarangan Jadi Pemicu Utama Bencana

Ahmad Atho’illah • Selasa, 13 Mei 2025 | 22:07 WIB
Ilustrasi bumi yang sedang tidak sehat ditandai dengan banyak bencana.
Ilustrasi bumi yang sedang tidak sehat ditandai dengan banyak bencana.

RADARTUBAN - Hilangnya daerah resapan di sejumlah wilayah hutan dan perbukitan, serta aktivitas tambang kapur di Kecamatan Palang mengakibatkan banjir bandang yang tak berkesudahan.

Untuk kesekian kalinya, hujan deras yang terjadi pada Minggu (11/5) malam kembali merendam sejumlah desa di kecamatan setempat.

Lima atau sepuluh tahun lalu, banjir merupakan peristiwa yang jarang terjadi di wilayah Kecamatan Palang.

Terlebih banjir bandang. Jika pun banjir, itu lantaran saking derasnya hujan yang mengguyur wilayah setempat.

Itu pun tidak sampai menyebabkan banjir bercampur lumpur dan kerikil.

Namun, seiring rusaknya alam di wilayah hutan dan perbukitan kecamatan setempat—yang menyebabkan hilangnya daerah resapan, kini bencana bah seakan menjadi hal lumrah terjadi.

Ketika hujan turun lebih dari sejam dengan intensitas cukup tinggi, hampir dapat dipastikan terjadi banjir kiriman dari wilayah hulu, seperti selumbari (11/5) lalu.

Hujan deras yang terjadi kurang lebih sejam “sukses” menggenai tiga desa di kecamatan setempat. Yakni, Desa Cendoro, Pucangan, dan Palang.

Luluk Khamim Mukjizat, salah satu anggota DPRD Tuban yang juga warga Desa Pucangan, mengamini bahwa satu di antara pemicu banjir yang sering terjadi di desanya dalam beberapa tahun terakhir, adalah faktor kerusakan alam.

Dulu, kata dia, sekitar lima-sepuluh tahun lalu, di wilayah perbukitan—hulu dari sungai yang melintasi sejumlah desa setempat, masih banyak pohon resapan yang berfungsi menahan laju air.

Namun, kini sebagian besar telah berubah menjadi lahan persil, sehingga area ruang resapan semakin berkurang.

Pun jumlah pohon penghijauan di sepanjang aliran sungai, juga semakin berkurang.

Selain dipicu kerusakan alam di wilayah hutan dan perbukitan, aktivitas tambang batu kapur di pengunungan setempat yang semakin ugal-ugalan, juga turut menyumbang kerusakan alam.

Fakta ini dapat dilihat dari bakas banjir yang menyisakan lumpur dan kerikil.

‘’Kerusakan alam ini semakin terasa sekitar lima-sepuluh tahun terakhir ini. Dulu sangat jarang terjadi banjir, tapi sekarang—dalam beberapa bulan terakhir ini saja sudah beberapa kali terjadi banjir,’’ ujar Khamim yang merasakan langsung dampak dari kerusakan alam di desa setempat.

Diakui Khamim, dengan kondisi kerusakan alam yang semakin parah tersebut, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan fungsi alam.

Itu pun tidak bisa dilakukan tanpa adanya kesadaran kolektif.

‘’Pemerintah daerah saja tidak akan mampu,’’ ujarnya.

Karena itu, edukasi dan ketegasan dalam menjaga alam perlu dilakukan secara konsisten dan kontinyu.

‘’Belum lagi budaya buang sampah sembarangan yang semakin tidak terkendali,’’ tuturnya.

Dari pengamatan yang dilakukan kemarin (12/5), Khamim mengaku sangat resah dengan budaya buang sampah sembarangan yang dilakukan masyarakat.

Dia melihat bermacam sampah dibuang sembarangan di sungai. Dari sampah plastik, limbah rumah tangga, popok bayi, hingga ranting pohon menjadi penyumbat utama aliran sungai.

‘’Persoalan banjir ini sangat kompleks. Dari kerusakan alam yang semakin memprihatinkan hingga budaya buang sampah sembarangan yang semakin tidak terkendali,’’ ungkapnya dengan nada penuh keprihatinan.

Sebagai wakil rakyat, mantan Ketua Karang Taruna Kabupaten Tuban ini berharap kepada Pemkab Tuban, khususnya organisasi perngkat daerah (OPD) terkait fokus dalam menyelesaikan persoalan ini dari hulu hingga hilir.

‘’Jika kondisi seperti ini (kerusakan alam hingga budaya buang sampah sembarangan, Red) terus dibiarkan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak-cucu kita nanti. Menurut kami, ini persoalan serius yang harus segera ditangani dan diselesaikan bersama,’’ tegasnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji… (tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#DPRD #hutan #Tuban #banjir #Kecamatan Palang #kerusakan alam #Desa Cendoro