Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Warga Jatirogo Tuban Ini Bikin Sabun Organik, Diolah dari Dari Dapur Sendiri, Menjalar Sampai Seluruh Pelosok Negeri

M. Afiqul Adib • Rabu, 21 Mei 2025 | 22:10 WIB
Ilustrasi sabun organik yang bisa dibuat dari bahan-bahan yang ada di dapur.
Ilustrasi sabun organik yang bisa dibuat dari bahan-bahan yang ada di dapur.

RADARTUBAN - Kulit sensitif kadang bikin kita rela ngeluarin uang lebih demi skincare yang cocok.

Tapi beda cerita dengan Retno Wulan Noviana, perempuan asal Desa Demit, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban.

Bukannya belanja produk perawatan kulit, dia justru meracik sendiri sabun wajah di rumah. Bukan karena sok hemat, tapi karena kulitnya memang susah diajak kompromi.

Awalnya, sabun racikan ini cuma buat dipakai sendiri. Tapi siapa sangka, dari dapur kecilnya, Novi—begitu ia akrab disapa—berhasil melahirkan produk bernama Khadijah Skin Care and Body Soap.

Sabun organik yang dia buat sekarang sudah punya pasar sendiri dan rutin diproduksi sampai 400 batang per bulan.

Pasarnya? Nggak cuma warga sekitar Tuban, tapi juga merambah Jakarta Selatan. Ada resellernya juga, lho!

Bahan-bahan yang digunakan Novi pun nggak neko-neko. Semua serba alami.

Ada madu, kopi, susu, dan daun sirih. Empat bahan ini jadi andalan dalam varian sabun yang dia produksi.

“Semuanya back to nature,” ujarnya sambil tersenyum. Bagi Novi, alam sudah menyediakan bahan terbaik untuk merawat kulit, tinggal kita mau atau enggak mengolahnya.

Sabun buatannya sudah punya izin edar dan surat uji laboratorium dari Sucofindo, jadi bukan sabun abal-abal yang bikin kering dompet sekaligus kulit.

Proses pembuatannya pun cukup unik. Pertama, alkali alias lye dicampur dengan air suling. Lalu masuklah minyak zaitun, minyak kelapa, dan bahan aktif sesuai variannya—entah madu, kopi, susu, atau sirih.

Campuran itu kemudian dimasukkan ke cetakan, dibiarkan selama 24 jam sampai mengeras, lalu dipotong.

Tapi sabunnya belum bisa langsung dipakai. Harus didiamkan dulu selama 40 hari agar proses saponifikasi sempurna. Sabar dulu, baru glowing.

Empat varian sabun yang diproduksi Novi masing-masing punya khasiat berbeda. Yang paling laris manis adalah sabun susu madu—katanya bisa bikin kulit halus, lembut, kencang, dan cerah.

Sabun kopi cocok buat para pejuang lapangan alias yang sering panas-panasan.

Dia mampu mengangkat sel kulit mati dan mempercepat pengeringan jerawat.

Sabun madu bisa bantu menyamarkan flek hitam dan bekas luka.

Sedangkan varian daun sirih lebih difokuskan pada fungsi antiseptik, cocok buat yang kulitnya gampang rewel.

Menariknya, Novi belajar meracik semua ini dari jurnal online dan video YouTube. Artinya, usaha ini benar-benar lahir dari rasa ingin tahu dan usaha keras, bukan sekadar ikut-ikutan tren.
Sabun organik dari Jatirogo ini bisa jadi bukti bahwa perawatan kulit nggak harus selalu mahal dan bermerk luar negeri.

Kadang, yang alami dan lokal justru lebih cocok dan ampuh. Apalagi, sabun ini lahir dari tangan seorang ibu rumah tangga yang awalnya cuma pengin kulitnya sehat.

Jadi, kalau ada yang bilang kampung itu nggak bisa ngikutin tren kecantikan, mungkin belum kenal Khadijah Soap dari Jatirogo. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#daun sirih #sabun organik #madu #kopi #jatirogo #natural #skincare #susu