Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Membaca Fenomena Bencana Banjir Tuban di Tengah Musim Kemarau: Alam Sudah Rusak, Cuaca Tak Lagi Bisa Ditebak

Ahmad Atho’illah • Kamis, 22 Mei 2025 | 01:33 WIB
Sampah sisa banjir bandang di Desa Sudomukti, Kecamatan Kenduruan yang menumpuk di pemukiman warga setempat.
Sampah sisa banjir bandang di Desa Sudomukti, Kecamatan Kenduruan yang menumpuk di pemukiman warga setempat.

RADARTUBAN - Dengan wajah sayu, Riyanto hanya bisa meratapi tanaman cabai miliknya yang baru berumur sekitar 2,5 bulan terancam gagal panen. Petani asal Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel ini sama sekali tidak memprediksi bakal terjadi banjir di tengah musim kemarau.

Sungguh kondisi cuaca saat ini benar-benar di luar jangkauan pranata mangsa (kalender tradisional Jawa yang digunakan untuk menentukan musim tanam).

"Kami sampai bingung, apa yang salah dengan alam ini. Banjir terjadi di mana-mana di tengah musim kemarau,’’ katanya dengan wajah pasrah melihat tanaman cabai miliknya di lahan kurang lebih 1 hektare terendam banjir.

Seingat Riyanto, setelah sekian puluh tahun, baru kali ini terjadi bencana banjir cukup besar di musim kemarau.

"Apakah alam mungkin sudah rusak, sehingga cuaca tidak lagi bisa ditebak,’’ tuturnya dalam bahasa Jawa. Dan, perasaan yang sama juga dirasakan oleh para petani di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo.

"Banyak (petani, Red) yang sampai gawok (tidak habis pikir) dengan kondisi cuaca saat ini,’’ tandasnya.

Kepala Pelaksana Badan Peanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji mengamini kondisi cuaca yang tidak lagi bisa diprediksi tersebut.

Menurutnya, anomali cuaca yang terjadi saat ini tidak lagi disebabkan oleh fenomena El Nino maupun La Nina, tapi dipengarhuhi oleh faktor cuaca regional itu sendiri.

"Jadi, cuaca yang terjadi saat ini, seperti di Jawa dan Bali merupakan kemarau basah. Karena itu, meski kemarau tapi masih akan turun hujan,’’ katanya.

Bahkan, terang Darmaji—sapaan akrabnya, kemarau basah ini diprediksi akan berlangsung hingga Agustus nanti. Sementara September sudah masuk musim penghujan.

Artinya, jika prediksi berdasar pengamatan BMKG ini benar, maka tahun ini tidak ada musim kemarau.

Sebab, kemarau pun masih akan turun hujan dengan intensitas yang bisa memicu banjir.

"Bisa dikatakan kemarau tahun ini hampir tidak ada,’’ tuturnya.

Adapun faktor yang memicu banjir di puluhan desa di sejumlah kecamatan dalam beberapa hari terakhir ini, terang Darmaji, tidak hanya dipicu oleh hujan lokal.

Sebaliknya, lantaran kiriman air dari wilayah hulu Sungai Bengawan Solo.

Derasnya hujan dari hulu hingga hilir menyebabkan volume air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu meluber hingga ke anak-anak sungai.

"Banjir kali ini memang benar-benar tidak diprediksi,’’ ujarnya.

Disinggung soal faktor kerusakan alam yang memicu perubahan cuaca yang semakin tidak diprediksi, Doktor Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya ini memberikan penjelasan dalam sudut pandang anomali cuaca.

"Dalam konteks bencana banjir sekarang, ini merupakan anomali cuaca, karena terjadi hujan deras dari hulu hingga hilir yang kemudian menyebabkan banjir,’’ terang dia.

Sementara kerusakan alam dapat dilihat dari konteks bencana seperti banjir bandang dan longsor.

Namun demikian, kondisi bencana yang terjadi hari ini juga tidak lepas dari faktor alam.

Hanya saja, mantan Camat Plumpang ini tidak bisa memberikan penjelasan secara detail: berdasar data dan hasil penelitian.

Lantas, apa yang bisa dilakukan petani dengan kondisi anomali cuaca seperti ini? Darmaji menyadari betul bahwa ilmu titen pranata mangsa sudah tidak bisa lagi dijadikan patokan untuk memulai musim tanam.

Sebab, cuaca saat ini semakin sulit ditebak. Jangankan menggunakan ilmu pranata mangsa, Badan Metorologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG) saja tidak bisa memastikan kondisi cuaca secara tepat dan dalam jangka waktu panjang.

‘’Jika yang dibutuhkan adalah prediksi cuaca untuk memulai musim tanam, sulit untuk mengandalakan BMGK. Sebab, prediksi BMKG pun sangat cepat berubah. Seperti prediksi cuaca ekstrim, seminggu sekali selalu berubah,’’ jelasnya.

Dengan kondisi cuaca yang begitu cepat berubah, terang mantan Kabag Kesra Sekretariat Daerah (Setda) Tuban itu, para petani tidak bisa lagi mengendalkan ilmu titen (pranata mangsa). Karena itu, ilmu yang sudah ada harus dikembangkan—dipadukan dengan banyak ilmu yang lain.

"Ada istilah among mongso, yakni memadukan pengetahuan tradisional dengan pengetahuan dan teknologi moderan,’’ tandasnya. Namun, dibutuhkan proses edukasi yang panjang. (tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #cuaca #banjir #musim kemarau #kali kening #Bengawan Solo #kenduruan