RADARTUBAN – Memasuki hari ketiga kemarin (21/5), bah luapan Sungai Bengawan Solo yang menggenangi empat kecamatan belum menunjukkan tanda-tanda surut.
Sebaliknya, tinggi muka air (TMA) sungai terpanjang di Pulau Jawa itu terpantau fluktuatif.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tuban, Kecamatan Rengel menjadi titik terparah terdampak banjir. Sedikitnya, tujuh desa masih terdampak banjir.
Yakni Desa Karangtinoto, Kanorejo, Ngadirejo, Tambakrejo, Sawahan, Bulurejo, dan Rengel.
Selain menggenangi sawah, jalan poros penghubung desa, dan pemukiman warga, bah juga merendam sejumlah sekolah.
Total ada sembilan sekolah yang terpaksa meliburkan kegiatan pembelajaran akibat banjir.
Yakni SDN Ngadirejo 1, SDN Ngadirejo 2, SDN Kanorejo 1, SDN Kanorejo 2, SDN Tambakrejo 1, SDN Tambakrejo 2, SDN Karangtinoto 1, SDN Karangtinoto 2, dan SDN Bulurejo 1.
Dilansir dari data pokok pendidikan (dapodik), total siswa di sembilan lembaga pendidikan itu mendapai 789 siswa.
Pada bagian lain, tingginya genangan juga merendam jalur penghubung dua kabupaten, yakni Kabupaten Tuban dan Bojonegoro yang terletak di Jembatan Kanor-Rengel (Kare).
Kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat tak lagi dapat melintas lantaran akses jalur tersebut lumpuh.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji mengatakan, untuk saat ini jajarannya telah menerjunkan personel tambahan guna membantu warga setempat yang terisolir banjir.
‘’Kami siagakan perahu karet untuk mobilitas warga dan terutama anak sekolah,’’ ujar dia.
BPBD juga telah mendirikan posko di wilayah Kantor Kecamatan Rengel sebagai upaya tanggap darurat menghadapi potensi kiriman luapan banjir.
Lantaran curah hujan di wilayah lokal dan hulu sungai masih cukup tinggi selama beberapa hari terakhir.
‘’Pemantauan di tiga kecamatan lainnya yang wilayahnya masih terdampak juga masih dilakukan, memang untuk saat ini kami pusatkan personel dalam jumlah banyak di wilayah Rengel,’’ bebernya.
Sementara itu, berdasarkan laporan pengamatan TMA di titik papan duga Babat masih berada di level siaga kuning, yakni di angka 8.51 meter.
‘’Meski mengalami penurunan, namun ketinggian air masih relatif cukup tinggi,’’ tandas Darmaji. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama