RADARTUBAN – Sejumlah jemaah haji asal Tuban terpisah dari rombongan menyusul penerapan sistem syarikah atau pembagian perusahaan penyelenggara haji yang diberlakukan Pemerintah Arab Saudi.
Ketua Kloter 68, Lukman Hakim mengatakan, tahun ini, Kemenag menggandeng delapan syarikah haji asal Arab Saudi untuk melayani jamaah haji reguler.
Sehingga, banyak jemaah yang terpisah dari rombongan, karena beda syarikah. Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu yang hanya ditangani satu syarikah.
"Dari kloter kami, ada tiga jemaah yang terpisah karena ikut syarikah lain,’’ ujarnya.
Disampaikan Lukman, sistem syarikan ini dikeluhkan jemaah. Karena itu, dirinya berusaha mengusulkan agar jemaah yang terpisah bisa tergabung kembali.
"Kami usulkan bisa gabung kembali karena mereka ini mendampingi keluarganya masing-masing,’’ jelasnya.
Plt Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Tuban Moh Anshori mengakui bahwa penerapan sistem syarikah ini awalnya memicu persoalan.
Sebab, banyak jemaah yang semula satu hotel kemudian terpisah.
"Bahkan, pembimbing haji pun bisa terpisah dari jemaahnya, karena berbeda syarikah,’’ imbuhnya.
Lebih lanjut, Anshori menyampaikan, meski ada jemaah asal Tuban yang terpisah karena imbas sistem syarikah.
Namun masih bisa diusulkan untuk penggabungan ulang.
Berbeda dengan kloter 68, kloter 69 dan 70 asal Tuban tidak terkena imbas syarikah, sehingga tidak ada yang terpisah dari rombongan. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama