Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gedung Budaya Loka Tuban: Eks Bioskop yang Penuh Nostalgia, Kini Sering Jadi Tempat Jual Barang Bekas

M. Afiqul Adib • Senin, 26 Mei 2025 | 00:19 WIB
SENIMAN KECEWA: Gedung Budaya Loka Tuban di Jalan Basuki Rachmad yang  batal direvitalisasi pemerintah pusat. / Yusab Alfa Ziqin
SENIMAN KECEWA: Gedung Budaya Loka Tuban di Jalan Basuki Rachmad yang batal direvitalisasi pemerintah pusat. / Yusab Alfa Ziqin

RADARTUBAN - Sebelum ada Netflix, sebelum kita bisa nonton drama Korea di HP sambil rebahan, dan sebelum bioskop modern berdiri di mal, Tuban sudah lebih dulu punya pusat hiburan rakyat: bioskop-bioskop legendaris.

Dan salah satu gedung yang jadi saksi bisu kejayaan masa itu adalah Gedung Budaya Loka Tuban.

Kalau sekarang gedung ini dipakai untuk lomba-lomba, pameran seni rupa, atau peluncuran buku, dulu suasananya beda jauh.

Sekitar tahun 1970 hingga awal 2000-an, Gedung Budaya Loka pernah jadi bioskop favorit warga sekitar.

Tiga Bioskop Legendaris di Tuban

Sebenarnya kala itu bukan cuma ada satu bioskop, tapi tiga.

Bayangkan, Tuban yang sekarang kelihatan adem-ayem ini dulu punya tiga bioskop sekaligus.

Yang pertama Pusaka Teater di Jalan Panglima Sudirman, yang kedua Tuban Teater—letaknya persis di seberangnya, dan yang ketiga Wahyu Teater yang terletak di Jalan Basuki Rahmad.

Konon katanya, ketika film Raja Dangdut Rhoma Irama diputar, antrian bisa sampai ke jalanan.

Dan jangan heran, bapak-bapak yang sekarang suka nyetel Rhoma di pagi hari sambil nyapu halaman, dulunya adalah pelanggan setia bioskop ini.

Termasuk bapak saya sendiri. Beliau saksi hidup saat bioskop rame bukan karena TikTok, tapi karena film Rhoma Irama.

Kini Jadi Tempat Lomba dan Pameran

Zaman berubah. Bioskop-bioskop itu akhirnya tutup satu per satu.

Entah karena perkembangan teknologi, masuknya VCD bajakan, atau karena orang-orang mulai lebih suka nonton di rumah pakai parabola.

Gedung yang dulu hiruk-pikuk dengan teriakan penonton waktu adegan kejar-kejaran, kini berubah jadi tempat yang lebih tenang dan santai.

Budaya Loka Tuban sekarang aktif dipakai buat acara seni dan budaya. Ada pameran lukisan, lomba baca puisi, dan event peluncuran buku.

Aura "seni" lebih terasa dibanding aura bioskops. Meski fungsinya berubah, gedung ini tetap punya tempat tersendiri di hati warga Tuban—terutama generasi yang tumbuh dengan suara proyektor film dan bau karcis cetak.

Bioskop Modern Sudah Hadir, Tapi Rasanya Berbeda

Saat ini, Tuban cuma punya satu bioskop modern: NSC Ultima Tuban yang ada di Jl. Basuki Rahmad, Ronggomulyo.

Tempatnya bersih, ber-AC, sistem suara canggih, dan tentu saja, pakai pemesanan online. Tapi entah kenapa, kalau menyoal kenangan, Gedung Budaya Loka memang masih tidak pernah tertandingi.

Budaya Loka mungkin tak lagi memutar film, tapi ia memutar ulang nostalgia banyak warga Tuban.

Gedung ini bukan sekadar tempat, tapi arsip perasaan, tempat di mana kisah cinta zaman SMA, pertengkaran karena rebutan kursi, dan kekaguman pertama pada layar lebar bermula.

Jadi kalau kamu lewat Gedung Budaya Loka, jangan cuma lihatnya sebagai gedung tua.

Lihatlah ia sebagai saksi dari masa ketika Tuban bersinar lewat layar film, dan semua orang datang bukan untuk selfie, tapi untuk duduk diam menonton cerita yang membuat dunia terasa lebih besar dari sekadar kota kecil di pesisir pantai utara.

Seiring berkembangnya zaman, Gedung Budaya Loka sering dimanfaatkan untuk hal lain.

Salah satu yang paling sering memanfaat gedung ini adalah penjual baju bekas atau trifthing.

Selebihnya, sesekali digunakan untuk keperluan jualan supermarket, pameran pertunjukan, dan geleri lukisan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#netflix #Tuban #bioskop #Galeri Lukisan #barang bekas #legendaris #pertunjukan