RADARTUBAN - "Keputusan dan kebijakan apa pun tidak akan pernah memuaskan semua pihak. Jika niat, tujuan dan konsepnya baik, lakukan saja.” Ini adalah kalimat yang diungkapkan Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono.
Susunan frasa yang membentuk sebuah quote di atas relate dengan kebijakan setiap pemimpin di daerah, termasuk kebijakan angkutan gratis Bus Si Mas Ganteng yang diluncurkan Bupati Tuban Mas Lindra atau Aditya Halindra Faridzky sejak 2024 lalu.
Kebijakan itu disambut positif oleh publik Tuban. Namun, di sisi lain, sebagian sopir angkutan mobil penumpang umum (MPU) mengeluhkan kebijakan ini.
Sebab, kebijakan yang di sisi lain disambut positif oleh sebagian jamak masyarakat Kota Legen ini turut menggerus pendapatan sebagai sopir MPU.
Lantas, bagaimana pemerintah daerah menyikapi persoalan ini?
Sebab, meski sopir MPU hanya sebagian kecil publik yang mengeluhkan kebijakan Bus Si Mas Ganteng (setelah memperluas cakupan penumpang umum), namun mereka adalah bagian dari masyarakat Tuban yang juga harus diperhatikan nasibnya.
Sehingga dibutuhkan langkah-langkah strategis untuk turut melindungi mata pencaharian mereka.
Ngali, adalah salah satu supir MPU di Tuban yang merasakan betul dampak kehadiran Bus Si Mas Ganteng terhadap penghasilannya yang turun kurang lebih 30-40 persen.
Terlebih, sejak masyarakat umum diperkenankan menikmati fasilitas transportasi umum gratis yang disediakan pemerintah daerah tersebut. Dari yang sebelumnya hanya dikhususkan bagi pelajar.
"Kami menyadari bahwa kebijakan ini (Bus Si Mas Ganteng, Red) untuk membantu masyarakat, utamanya pelajar. Tapi, kami sebagai sopir MPU harus kehilangan sebagian penumpang kami,’’ ujarnya dengan wajah muram.
Berharap ada kebijakan adil turut membantu kesejahteraan sopir MPU yang selama ini beroperasi di jalur Tuban.
Dulu, terang sopir MPU Tuban-Bulu itu, cukup jarang dirinya harus ngetem lama untuk menunggu penumpang.
Namun, seiring cakupan penumpang Bus Si Mas Ganteng yang semakin diperlebar, kini waktu ngetem-nya lebih lama.
Seperti siang itu, dengan langkah gontai dan wajah sayu—setelah menunggu penumpang yang tak kunjung tiba, Ngali ngetem sembari menikmati secangkir kopi di sebuah warung di Jalan Manunggal. Hal yang amat jarang dilakukan sebelumnya.
"Sampai mengantuk menunggu penumpang,’’ ujarnya menjadi alasannya untuk sejenak ngopi sembari menunggu penumpang datang.
Namun, hingga hampir sejam penumpang tak kunjung ada. ‘’Semoga ke depan, kami juga turut diperhatikan,’’ tandas sopir MPU asal Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban itu.
Senada dituturkan Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Tuban, Ihsan Hadi.
Sebagai nakhoda yang membawahi para sopir angkutan umum di Tuban, pria yang karib disapa Ihsan ini juga tidak mempersoalkan program angkutan gratis Bus Si Mas Ganteng yang diluncurkan pemerintah daerah.
Terlebih, tujuannya juga mulia: untuk memasyarakatkan angkutan umum dan meminimalisir kecelakaan di kalangan pelajar.
‘’Secara kebijakan, kami menunggu program ini (Bus Si Mas Genteng, Red). Tetapi, sopir MPU juga menjadi bagian dari masyarakat Tuban yang juga harus diperhatikan nasibnya,’’ terang dia.
Terlebih, lanjut Ihsan, kini cakupan penumpang Bus Si Mas Ganteng semakin diperluas. Sehingga, secara otomatis semakin menggerus peluang pendapatan para sopir MPU yang selama ini mengaspal di jalur Tuban.
Penumpang dari jalur Tuban-Bulu dan Tuban-Paciran, misalnya, setelah masyarakat dengan syarat tertentu diperbolehkan naik Bus Si Mas Ganteng, kini banyak penumpang yang lebih memilih naik fasilitas pemerintah yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tersebut.
"Logikanya sederhana, siapa sih yang tidak memilih naik Bus Si Mas Ganteng dengan fasilitas nyamannya: ber-AC, tempat duduk nyaman, daya tampung yang lebih banyak, dan kenyamanan-kenyamanan lainnya. Tentu, jika harus diperbandingkan dengan angkutan umum biasa, ini sangat tidak apple to apple. Sudah pasti kami (sopir angkutan umum, Red) akan kalah,’’ ujarnya.
Karena itu, Organda Tuban berharap betul ada kebijakan arif yang dikeluarkan pemerintah daerah.
Disampaikan dia, jika tujuan awalnya berfokus pada pelajar, maka itulah yang harus dimaksimalkan penuh.
Setidaknya, sejauh ini belum terlihat optimal. Itu tampak dari masih maraknya pelajar yang menggunakan sepeda motor.
Bahkan, sebagian dari mereka juga belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor.
Seperti kasus menyedihkan yang terjadi beberapa hari lalu: seorang pelajar kembali meninggal dunia di jalan karena terlibat kecelakaan.
Naasnya, pelajar putri yang mengembuskan nafas di tempat kejadian perkara ini setelah terlibat kecelakaan dengan Bus Si Mas Ganteng. Korban dengan kecepatan cukup tinggi mencoba mendahului Bus Si Mas Ganteng, namun gagal dan terjatuh.
"Dalam rapat bersama dinas perhubungan dan polres sudah kami sampaikan. Jika memang fokusnya sebagai angkutan pelajar gratis, maka fokusnya kepada pelajar. Tidak perlu memperluas cakupan ke penumpang umum,’’ ujarnya.
Bahkan, tegas Ihsan, pihaknya juga sudah menyampaikan pentingnya ada kebijakan khusus kepada dinas pendidikan maupun kementerian agama yang membawa lembaga pendidikan madrasah, untuk melarang penuh siswa-siswanya menggunakan motor.
"Di Tuban ada ratusan ribu pelajar, dan untuk memfasilitasi sekitar 10-15 ribu siswa saja, sepertinya Bus Si Mas Ganteng masih kewalahan. Jadi, lebih baik fokus ke pelajar saja dulu, sehingga kue penumpang umum tetap menjadi rezeki sopir angkutan umum,’’ harapannya.
Disinggung soal peremajaan agar para sopir angkutan umum juga turut berbenah meningkatkan fasilitas kelayakan kendaraannya, Ihsan berharap, hal demikian tidak hanya dilontarkan oleh pemerintah daerah, tapi juga diberikan bantuan berupa subsidi peremajaan kendaraan.
"Kami siap, tapi tolong bantu kami juga dengan subsidi,’’ tuturnya.
Ihsan menandaskan, dirinya dan para sopir yang tergabung dalam Organda Tuban berharap betul ada kebijakan arif dari pemerintah daerah.
"Sebab, kami juga menjadi bagian dari masyarakat Tuban. Kami mendukung program Bus Si Mas Ganteng, tapi kami juga harus diperhatikan. Jangan semua kue rezeki diambil oleh Si Mas Ganteng,’’ tandasnya. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama