Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Job Snob dan Gagalnya Gen Z Memahami Passion

Ahmad Atho’illah • Minggu, 1 Juni 2025 | 00:18 WIB
Fenomena Job Snob
Fenomena Job Snob

RADARTUBAN- Sepekan terakhir ini, psikologi publik seakan dihentakkan dengan pemberitaan: membludaknya para pencari kerja di beberapa job fair yang digelar pemerintah daerah.

Terlebih, mayoritas pelamar adalah generasi Z—yang sebagian besar baru lulus kuliah. Sebegitu sulitkah mencari kerja di Indonesia? 

AWALNYA, saya tidak percaya, atau lebih tepatnya ragu melihat beberapa video dengan pemandangan lautan manusia di beberapa acara job fair.

Salah satunya—yang masih viral, yakni bursa kerja yang diadakan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bekasi.

Saking berjibunnya jumlah pelamar yang datang, kericuhan pun tak terhindarkan.

Puluhan pelamar dikabarkan pingsan akibat berdesak-desakan. Beruntung tidak sampai ada korban jiwa.

Sebagai generasi milenial yang hampir kepala empat, fenomena ini memantik banyak pertanyaan di kepala saya.

Dan satu di antara pertanyaan mendasar itu: apakah puluhan ribu pelamar kerja yang mayoritas Gen Z ini memang sama sekali tidak memiliki pekerjaan, atau ada alasan lain yang mengharuskan mereka bertaruh peruntungan demi menjadi karyawan di sebuah perusahaan?

Pernyataan menarik disampaikan Kepala Biro Humas Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker), Sunardi Manampiar Sinaga menyikapi fenomena lautan manusia pencari kerja di acara job fair tersebut.

Dikutip dari detik.com, Sunardi membantah membludaknya pencari kerja di pameran bursa kerja itu sebagai potret sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia.

“Kalau dibilang job fair yang di Bekasi membludak, bahkan ricuh sebagai potret sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia, saya kira kurang tepat,” katanya.

Sunardi menjelaskan, tingginya animo pencari kerja ini salah satunya disebabkan keinginan masyarakat untuk mencoba pekerjaan baru dari pekerjaan yang saat ini dijalankan.

“Justru, animo masyarakat yang tinggi terhadap lowongan kerja ini bisa karena berbagai faktor, seperti bertambahnya jumlah angkatan kerja karena bertambahnya lulusan pendidikan, sehingga bersemangat mencari lowongan kerja, bisa juga adanya keinginan masyarakat mencoba pekerjaan lain yang lebih cocok dari pekerjaan yang ada,” jelas dia.

Lepas dari segala cercaan yang dilontarkan publik kepada Kemenaker. Juga lepas dari gagalnya Wakil Presiden Gibran putra Jokowi merealisasikan janjinya: menyediakan 19 juta lapangan pekerjaan pada saat kampanye bersama Prabowo di Pilpres 2024 lalu.

Bagi saya, komentar Sunardi yang menyebut: adanya keinginan masyarakat mencoba pekerjaan lain yang lebih cocok dari pekerjaan yang ada, ini menarik untuk ditelaah.

Artinya, tidak semua para pencari kerja ini benar-benar menganggur.

Tapi ada kemungkinan bahwa sebagian dari mereka sudah memiliki pekerjaan, tapi menganggap pekerjaan itu tidak cocok untuk dirinya, sehingga mencoba pekerjaan yang lain.

Jika yang diungkapkan Sunardi adalah fakta, maka fenomena yang terjadi kiwari ini merupakan gaya hidup job snob.

Apabila diterjemahkan dalam bahasa yang lebih sederhana, job snob adalah seseorang yang meremehkan pekerjaan atau jabatan tertentu karena dianggap tidak memiliki status sosial atau prestise yang cukup tinggi. 

Mereka yang memiliki sikap mental seperti ini cenderung menganggap pekerjaan yang mereka anggap “rendah” sebagai sesuatu yang kurang berharga atau tidak memiliki nilai, dan menganggap orang-orang yang melakukan pekerjaan tersebut sebagai kurang berharga.

Dalam konteks yang lain, job snob juga bisa meremehkan orang lain berdasarkan latar belakang rasial atau etnis.

Mereka suka meremehkan pekerjaan orang lain, dan merasa lebih unggul karena kelas sosial dan tingkat pendidikan.

Contohnya, seorang yang menyandang gelar sarjana strata satu (S1) merasa tidak cocok jika harus bekerja sebagai penjual gorengan.

Bahkan, sekalipun menyandang sarjana pertanian, mereka merasa tidak pantas menjadi seorang petani.

Mereka menganggap bahwa pekerjaan yang cocok untuk seorang sarjana adalah pegawai kantoran atau minimal perusahaan besar.

Pertanyaannya sekarang: Mungkinkan sebagian besar dari puluhan ribu pencari kerja yang berjubel di acara job fair yang digelar oleh beberapa pemerintah daerah itu lantaran mental job snob yang menjangkiti para sarjana yang mengklaim dirinya berpendidikan tinggi?

Tanpa mengurangi rasa hormat penulis kepada para pencari kerja yang berpeluh keringat dan berdesak-desakan mencari peruntungan di acara bursa kerja.

Namun, penting juga menjadi kritik bersama, khususnya generasi Z dalam menyikapi masalah mental, dan bagi diri saya sendiri.

Berdasar pengalaman lebih kurang dua tahun terakhir ini, saya menemukan hampir 90 persen Gen Z (yang menjadi karyawan Jawa Pos Radar Tuban) tidak memiliki mental yang kuat.

Seorang Gen Z yang melamar menjadi jurnalis, misalnya, rata-rata tidak sampai setengah tahun sudah tumbang—resign. 

Alasannya pun bermacam. Salah satu yang membuat saya tersenyum tipis, adalah merasa tidak sesuai passion. Sehingga memutuskan resign dan mencoba melamar pekerjaan yang lain.

Sebagai lulusan sarjana Pendidikan Agama Islam (PAI) yang “tersesat di jalan benar” menjadi penulis cum jurnalis, saya hanya mampu membatin saat mendengar alasan Gen Z ketika resign tersebut.

Pesan untuk Gen Z Agar Tidak Salah Memahami Definisi Passion

Membentuk passion itu butuh waktu yang tidak sebentar. Yang sudah menekuni satu profesi bertahun-tahun saja terkadang masih merasa belum menemukan passion-nya, apalagi hanya sebulan-dua bulan.

Jika passion yang selalu menjadi alasan, maka tidak menutup kemungkinan—setelah mendapat pekerjaan, juga akan resign lagi, dan dengan alasan yang tidak jauh beda: merasa tidak cocok dengan pekerjaannya, lalu resign lagi, mencari pekerjaan lagi, tidak cocok lagi, resign lagi, dan begitu seterusnya.

Jika itu yang terjadi, bukan passion yang datang, melainkan hobi melamar kerja.

Wabakdu, passion, kebahagiaan, dan kepuasan, tidak akan pernah datang kepada seseorang yang tidak mencintai pekerjaannya.

Seperti halnya hubungan rumah tangga, tidak akan pernah tercipta keharmonisan dalam keluarga tanpa adanya rasa saling mencintai. Pun demikian dalam pekerjaan.

Jangan berharap macam-macam, jika mencintai pekerjaan saja tidak mampu.

Wallahualam. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Passion #job fair #pencari kerja #Gen Z #job snob #mencari kerja #mental