RADARTUBAN – Semangat kolaborasi yang ditanamkan Bupati Aditya Halindra Faridzky dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Tuban membuahkan hasil yang menggembirakan.
Berkat kerja sama yang baik antar organisasi perangkat daerah (OPD) dan stakeholder, Prevalensi stunting di Bumi Ronggolawe pada 2024 turun signifikan. Dari 17,8 persen pada 2023 turun menjadi 11,3 persen.
Atas capaian yang menggembirakan tersebut, Mas Lindra—sapaan akrab bupati—menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di Tuban.
Sebagaimana hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penurunan angka stunting di Kota Legen berhasil melampaui target nasional yang dipatok 19,8 persen.
Disampaikan Mas Lindra, capaian penurunan angka stunting yang menggembirakan ini merupakan wujud nyata dari kerja bersama dan komitmen kuat yang terus dikawal oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Tuban.
Dalam upaya penurunan angka stunting, tegas Mas Lindra, Pemkab Tuban tidak hanya fokus pada intervensi gizi, tetapi juga memperkuat faktor pendukung seperti edukasi, lingkungan sehat, serta pola asuh yang tepat.
"Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih kepada Tim TPPS, OPD terkait, para camat, kepala desa, PKK, tenaga kesehatan, kader posyandu, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen yang bergerak bersama dari hulu ke hilir. Ini adalah kerja kolaboratif yang nyata, dan harus terus kita jaga,’’ tuturnya.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban Esti Surahmi menyampaikan, penurunan angka stunting yang mencapai 6,5 persen ini merupakan hasil kerja keras dan komitmen kuat dari Pemkab Tuban di bawah kepemimpinan Bupati Aditya Halindra Faridzky, serta kolaborasi dan kerja sama dari seluruh Tim TPPS Tuban.
Lebih lanjut, Esti menjelaskan, ada banyak faktor yang memengaruhi penurunan angka stunting di Bumi Ronggolawe.
Di antaranya, upaya intervensi langsung pada remaja, ibu hamil, dan balita yang terus konsisten dilakukan.
Selain itu, juga intervensi tidak langsung melalui penguatan lingkungan sehat dan perilaku, serta pola asuh yang baik dan benar.
Pada bagian lain, Dinkes P2KB juga secara aktif mengampanyekan penerapan lima pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), yang salah satunya mendeklarasikan Kabupaten Tuban sebagai layak Open Defecation Free (ODF).
Untuk diketahui, di tingkat nasional, SSGI 2024 mencatat prevalensi stunting turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.
Sedangkan di tingkat Provinsi Jawa Timur, angka stunting menurun dari 19,2 persen menjadi 14,7 persen.
Sementara itu, di Kabupaten Tuban konsisten mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir. Pada 2021, angka stunting mencapai 25,1 persen, kemudian turun menjadi 24,9 persen pada 2022.
Lalu, turun lagi mencapai 17,8 persen pada 2023, dan tahun ini kembali turun menjadi 11,3 persen. (tok)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni