RADARTUBAN - Pada bagian lain, sejumlah tempat wisata yang semula viral, kini perlahan mulai tenggelam.
Di antaranya, wisata Kedung Sari (WKS) di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak; wisata Rumpun Bambu, Desa Keron, kecamatan Rengel, dan Batu Van Tuban, Desa Tingkis, Kecamatan Singgahan, serta beberapa tempat wisata lain.
Bahkan, tidak sedikit gulung tikar.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tuban Multazam Daud mengamini bahwa kondisi sektor pariwisata saat ini memang sedang tidak baik-baik saja.
Menurutnya, jika pengelola wisata tidak pandai berinovasi, maka hampir dapat dipastikan tidak akan bertahan lama.
"Data kami dari total 49 wisata ada lima yang sekarang mati suri,’’ ujarnya, dan mungkin saja jumlahnya lebih banyak.
Sebab, tidak semua masuk data Pokdarwis.
Disampaikan Multazam, tutup dan mati surinya sejumlah tempat wisata itu karena kebutuhan operasional dan pendapatan tidak seimbang.
Biasanya, terang dia, tempat wisata yang dengan cepat gulung tikar ini tidak memiliki identitas yang kuat. Hanya gara-gara viral di media sosial, lalu banyak netizen yang fomo.
"Pengunjung hanya datang untuk foto-foto (karena fomo, Red), setelah itu tidak datang lagi. Lama-lama sepi,’’ katanya.
Multazam berharap, banyaknya tempat wisata yang tutup ini menjadi atensi Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudporapar) Tuban.
Minimal ada perhatian dari dinas terkait.
"Selama 2025 ini belum pernah ada pertemuan antara Pokdarwis dengan Disbudporapar. Harapan kami, monggo temen-temen Pokdarwis dikumpulkan, kemudian ada koordinasi lebih lanjut,’’ ujarnya.
Atau, lanjut Multazam, ada agenda studi banding bersama dinas terkait ke daerah lain untuk belajar pengelolaan wisata yang lebih baik.
"Iuran tidak masalah karena ini untuk meningkatkan semangat para pengelola wisata di Tuban,’’ katanya.
Terpisah, pengelola Wisata Batu Van Tuban, Agung Triatmoko mengatakan, wisata yang dikelolanya sudah tutup sejak 2024 lalu.
Namun, tegas dia, penyebabnya bukan lantaran sepinya pengunjung. Melainkan masalah internal.
"Ada masalah antara pengurus wisata dan pihak desa,’’ katanya. Dan lantaran tidak lagi beroperasi, kini eks Batu Van Tuban dijadikan warung kopi. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama