RADARTUBAN - Kontroversi kepengurusan TITD Kwan Sing Bio dan Tjoe Ling Kiong Tuban pasca terpilihnya Go Tjong Ping sebagai umum kelenteng periode 2025-2028 pada Minggu (8/6) kian memanas.kont
Senin (9/6) petang atau sehari setelah pemilihan tersebut, tempat ibadah di Jalan RE Martadinata 1 Tuban itu ditutup total.
Praktis, umat tri dharma, Konghucu, Buddha, dan Tao tidak bisa menjalankan aktivitas ritual di tempat ibadah tersebut.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, Senin (9/6) pukul 18.00 tidak ada aktivitas apa pun di kelenteng.
Itu setelah gerbang pagar tengah di tutup. Begitu juga pintu utama dan pintu barat juga ditutup. Seluruh lampu juga dipadamkan.
Kondisinya pun gelap gulita. Tidak satu pun penjaga di tempat ibadah tersebut.
Belum ada yang bertanggung jawab terhadap penutupan kelenteng. Soedomo Mergonoto, salah satu pengelola kelenteng belum merespons konfirmasi Jawa Pos Radar Tuban.
Kalau benar, itu adalah penutupan total kedua TITD Kwan Sing Bio Tuban yang dipicu dari kemelut berkepanjangan.
Sebelumnya, insiden yang sama terjadi sekitar Juli 2021 yang berujung pada penyerahan pengelolaan kelenteng kepada tiga taipan Surabaya. Mereka adalah Soedomo Mergonoto, Paulus Welly Afandy, dan Alim Markus.
Batas waktu pengelolaan sementara kelenteng berakhir pada 31 Desember 2024 lalu atau sekitar lima bulan lalu. Di tengah kekosongan pengelolaan, sejumlah tokoh kelenteng mengembalikan kedaulatan pengelolaan tempat ibadah tersebut kepada umat Tuban dengan menggelar pemilihan pengurus dan penilik di Resto Ningrat Tuban, Minggu (8/6). Hasilnya, Tjong Ping terpilih sebagai ketua umum.(*)
Editor : Yudha Satria Aditama