Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Grup LGBT Terbuka di Medsos, Direktur RSNU Tuban Ingatkan Risiko Penularan HIV Bakal Lebih Cepat

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 10 Juni 2025 | 23:15 WIB

Viral grup LGBT dengan 10 ribu anggota di media sosial membuat masyarakat Tuban Raya heboh.
Viral grup LGBT dengan 10 ribu anggota di media sosial membuat masyarakat Tuban Raya heboh.


RADARTUBAN – Tingginya kasus human immunodeficiency virus (HIV) baru yang terdeteksi di Kabupaten Tuban seakan menjadi jawaban atas fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang belakangan semakin marak.

Termasuk di Tuban, yang sudah berani terang-terangan membentuk grup LGBT di media sosial.

Direktur Utama Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban Didik Suharsoyo menyatakan bahwa kelompok lelaki seks lelaki (LSL) lebih rentan terpapar HIV.

Sebab, mereka yang melakukan hubungan sesama jenis lebih berisiko tertular infeksi menular seksual (IMS) dibandingkan heteroseksual.

"Homoseksual itu lebih berisiko 3-30 kali lebih tinggi terkena IMS dibandingkan dengan heteroseksual karena perilaku seks yang tidak aman,’’ katanya kepada wartawan koran ini menyikapi munculnya fenomena LGBT yang belakangan ini semakin meresahkan.

Sebagaimana data yang pernah ditulis Jawa Pos Radar Tuban. Pada triwulan pertama 2025 lalu, tercatat sebanyak 67 kasus HIV baru yang dilaporkan ke dinas kesehatan (dinkes).

Dan jika dilihat dari fenomena gunung es, kasus yang belum terdetksi berpotensi jauh lebih banyak.

"Selain HIV, ada pula HPV (human papillomavirus), sifilis, dan juga gonore yang bisa timbul dari perilaku seksual sesama jenis,’’ terang Didik.

Kendati fenemona LGBT tidak bisa dikaitkan langsung dengan tingginya kasus HIV baru.

Namun, Didik meyakini bahwa prilaku seks menyimpang turut menyumbang tingginya kasus HIV di daerah.

Terlebih kelompok LSL. Sebab, mereka melakukan hubungan seksual melalui cara yang sangat berisiko.

Lebih lanjut, Didik menyampaikan, sebenarnya, mereka yang homoseksual bukan orang yang sama sekali tidak mengetahui dampak negatif dan risiko hubungan seksual yang tidak dibenarkan oleh semua agama tersebut.

"Kalau dianalogikan, homoseksual ini sama seperti pengendara kendaraan roda dua yang enggan menggunakan helm. Sudah tahu bahaya dan akibatnya tapi masih dilakukan,’’ imbuhnya.

Meski begitu, Didik tidak bisa memastikan, apakah penyuka sesama jenis akan berhenti melakukan hal tersebut setelah terdiagnosa mengidap infeksi menular.

Sebab, hal tersebut bergantung pada kesadaran individu dan tidak bisa dipaksakan secara sepihak.

"Mereka membutuhkan proses panjang yang melibatkan pendampingan, konseling, dan juga lingkungan yang mendukung penyembuhannya,’’ tandasnya.

Sekadar diketahui, belakangan ini masyarakat diresahkan dengan munculnya komunitas LGBT Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan yang sudah terang-terangan membentuk grup di media sosial Facebook.

Dan yang lebih mencengangkannya lagi, jumlah pengikut grup kelainan seks ini mencapai 10 ribu lebih. (saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #homoseksual #hiv #Gay #LGBT