RADARTUBAN – Kabar duka kembali datang dari Tanah Suci.
Dua hari berturut-turut, selumbari (9/6) dan kemarin (10/6), dua jemaah asal Tuban kembali dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban Umi Kulsum mengatakan, satu jemaah meninggal pada hari Senin (9/6) atas nama Masfiah, 66, warga Desa Binangun, Kecamatan Singgahan.
Jemaah lansia yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 70 ini meninggal setelah menjalani perawatan secara intensif lantaran stroke.
Sementara jemaah yang meninggal kemarin atas nama Suwidodo Sudarno, 65, asal Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak.
Jemaah dari kloter 69 ini meninggal akibat penyakit diabetes yang dideritanya.
Sebelum menjalani perawatan intensif, jemaah dari Kelompok Bimbingan Haji dan Umrah (KBIHU) Busyrol Ummah Kecamatan Jenu itu mengeluh sesak napas setelah menjalankan tawaf ifadah.
"Almarhum meninggal sekitar pukul 03.10 WAS (Waktu Arab Saudi),’’ kata Umi-sapaan akrabnya—kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Dengan demikian, total sudah tiga jemaah asal Tuban yang meninggal di Tanah Suci. Satu jemaah yang meninggal sebelumnya atas nama Sunhaji, 83, asal Kecamatan Grabagan yang tergabung dalam kloter 70.
"Semoga almarhum (ketiga jemaah yang meninggal di Tanah Suci, Red) khusnul khatimah, diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan,’’ harapannya.
Lebih lanjut Umi menyampaikan, secara umum, kondisi kesehatan jemaah dalam keadaan baik.
Meski beberapa jemaah sempat mengalami kelelahan setelah menjalani fase Armuzna: wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lempar jumrah di Mina, kini perlahan sudah membaik.
"Semua jemaah sudah kembali ke hotel, dan sekarang masih proses menyelesaikan tawaf ifadah,’’ katanya.
Untuk memastikan kondisi kesehatan jemaah, tim kesehatan ditugaskan untuk terus memantau kondisi jemaah.
"Jangan sampai ada yang sakit, tapi terlambat ditangani,’’ pungkasnya.
Plt Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Tuban Moh Anshori menambahkan, dari dua jemaah haji yang meninggal dalam dua hari terakhir ini, yang harus dilakukan safari wukuf adalah jemaah atas nama Masfiah.
Sebab, kondisinya sudah memburuk sebelum puncak haji dimulai.
"Sebelum Armuzna sudah dirawat di rumah sakit,’’ imbuhnya.
Sementara jemaah atas nama Suwidodo tidak sampai menjalani safari wukuf, karena meninggal setelah tahapan haji selesai. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama