RADARTUBAN – Jalan poros penghubung antarkecamatan di Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang kembali digenangi banjir.
Genangan akibat luapan Kali Avur itu tak hanya terjadi sekali dua kali. Dalam enam bulan terakhir, ruas jalan ini sudah belasan kali ‘tenggelam’.
Akses vital yang menghubungkan tiga kecamatan—Rengel, Plumpang, dan Widang—itu kini menjadi langganan banjir.
Warga yang melintas pun harus ekstra hati-hati, terlebih saat malam hari.
Lubang jalan yang tersembunyi di balik air membuat pengendara rawan terjatuh.
“Tahun ini sudah lebih dari sepuluh kali banjir. Jalan jadi rusak, aspalnya ngelupas semua. Kalau malam, bahaya banget, karena lubangnya nggak kelihatan,” ujar Marto, warga setempat.
Menurut Marto, kondisi jalan saat ini sudah memprihatinkan.
Selain jadi akses utama warga dari berbagai desa, jalur ini juga penting untuk aktivitas ekonomi, pertanian, dan transportasi antarkecamatan.
Sayangnya, kerusakan akibat genangan banjir kian parah.
“Ada jalur alternatif, tapi jauh memutar,” katanya.
Tingginya permukaan air sungai yang hampir sejajar dengan badan jalan disebut sebagai penyebab utama banjir berulang.
Saluran air di kanan-kiri jalan juga sering meluber.
“Dulu sempat kabarnya mau ditinggikan, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” kata pria paro baya itu.
Menanggapi hal tersebut, Camat Plumpang Saefiyudin memastikan bahwa usulan peninggian jalan sudah masuk dalam perencanaan pemerintah daerah.
Bahkan, menurutnya, tahun ini proses peninggian akan segera dilaksanakan.
“Informasi dari dinas teknis, insya Allah tahun ini akan direalisasikan. Rencananya ditinggikan sekitar 75 sampai 100 cm di titik-titik yang sering tergenang,” jelasnya.
Dengan peninggian itu, diharapkan warga tak lagi cemas setiap kali hujan deras turun.
Pasalnya, selain membahayakan pengguna jalan, genangan air yang berkepanjangan juga mengganggu distribusi hasil pertanian dan aktivitas harian warga.
Warga berharap, rencana ini tidak sekadar janji. Jalan poros Plandirejo sudah terlalu lama terabaikan. Dan setiap banjir datang, risiko keselamatan jadi taruhan.
“Yang kami inginkan cuma satu, jalan ini aman untuk dilalui. Bukan malah jadi kolam setiap musim hujan,” pungkas Marto. (an/wid)
Editor : Yudha Satria Aditama