RADARTUBAN – Orang tua siswa kelas delapan SMPN 1 Tuban mencium adanya ketidakberesan pengembalian dana study tour yang batal dilaksanakan menyusul larangan menyelenggarakan kegiatan out door learning (ODL).
Berdasar informasi yang diterima Jawa Pos Radar Tuban, dari biaya Rp 1,5 juta per siswa yang telah dibayar orang tua/wali murid, yang dikembalikan hanya Rp 1.342.000.
Kecurigaan orang tua siswa semakin liar lantaran tidak ada penjelasan yang disampaikan pihak sekolah terkait pemotongan biaya sebesar Rp 148 ribu per siswa tersebut.
Dan jika dikalikan dengan jumlah peserta sebanyak 169 siswa, maka total dana potongan yang terkumpul mencapai Rp 25 juta. Nominal yang tidak sedikit.
Selain tidak ada penjelasan yang disampaikan kepada orang tua/wali murid, hingga berita ini ditulis tadi malam, pihak sekolah juga bungkam saat dikonfirmasi wartawan koran ini. Padahal, apa susahnya transparansi.
‘’Kami sebenarnya tidak masalah dengan potongan Rp 148 ribu itu, asal ada penjelasan yang konkret,’’ kata AM, salah satu orang tua siswa.
Disampaikan AM, berdasar keterangan yang diterima dari guru, uang potongan Rp 148 ribu itu untuk DP (down payment) katering dan sewa hotel.
Namun, terang orang tua siswa dari Kecamatan Semanding ini, ketika ditanya bukti DP tersebut, pihak sekolah tidak bisa menunjukkan. Tepatnya hingga kemarin.
‘’Padahal yang dibutuhkan orang tua hanya transparansi. Kalau seperti ini (pihak sekolah menutup diri, Red), orang-orang ya semakin curiga,’’ ujarnya.
Lebih lanjut, AM menyampaikan, bagi orang tua yang sudah berkecukupan, atau bahkan yang sudah memiliki kebebasan finansial, uang Rp 148 ribu adalah nominal yang tidak seberapa.
Namun, tegas AM, bagi orang tua seperti dirinya, jangankan Rp 148 ribu, Rp 50 ribu saja sangat berharga.
‘’Jadi, kalau ada yang mengatakan uang Rp 140 ribu itu sedikit, tolong jangan samakan dengan kami,’’ katanya.
KL, orang tua siswa lain, juga menyatakan hal yang sama. ‘’Kami hanya butuh transparansi,’’ katanya.
Sebenarnya, terang dia, pihak sekolah sudah mengundang orang tua siswa terkait pengembalian uang study tour tersebut. Bahkan, juga mengundang pihak travel.
‘’Tapi tidak ada bukti rincian DP yang dimaksud. Itu yang membuat kami curiga. Padahal, apa sih susahnya transparan. Zaman seperti ini kok tidak bisa transparan,’’ tandasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama