RADARTUBAN- Kalau kamu pernah datang ke hajatan di kampung-kampung Jawa, apalagi di daerah Tuban, mungkin kamu akan melihat para ibu-ibu sibuk di dapur, bapak-bapak mondar-mandir menyusun kursi, atau remaja-remaja bertugas nerima tamu.
Mereka bukan pekerja bayaran. Mereka adalah para rewang—atau biasa juga disebut landang di wilayah Tuban.
Tradisi ini bukan sekadar kerja bakti, tapi simbol solidaritas dan gotong royong yang melekat erat dalam budaya Jawa.
Rewang adalah aktivitas membantu sanak saudara atau tetangga yang sedang punya hajat, terutama pernikahan.
Tapi rewang bukan sembarang bantu-bantu. Orang yang ikut rewang biasanya adalah orang yang dekat secara emosional atau kekeluargaan.
Bahkan, memilih siapa yang akan diajak rewang itu kadang seperti menyusun tim elite, karena mereka tahu siapa yang cekatan di dapur, siapa yang jago ngeracik sambal, atau siapa yang luwes menyambut tamu.
Di Tuban, rewang juga dikenal sebagai landang, istilah khas lokal yang menyiratkan nilai-nilai bantu-membantu tanpa pamrih.
Para landang ini menyumbangkan tenaganya dari pagi sampai malam, memasak, menyiapkan hidangan, sampai membereskan segalanya setelah tamu pulang.
Percaya atau tidak, sukses tidaknya sebuah hajatan kadang bergantung pada kekompakan tim rewang.
Semakin solid mereka, semakin lancar jalannya acara. Nasi, sayur, dan lauk tidak telat disajikan, tamu-tamu pun merasa nyaman.
Tapi kalau rewang-nya ogah-ogahan? Wah, bisa-bisa pengantin yang deg-degan bukan cuma soal ijab kabul, tapi juga takut makanan telat naik meja.
Kerja mereka tidak dibayar uang—iya, nol rupiah. Tapi bukan berarti tanpa apresiasi.
Biasanya, setelah semua selesai, mereka akan dibagi makanan sisa acara, entah itu rawon, ayam goreng, atau sekadar krecek pedas.
Bukan makanannya yang dicari, tapi rasa kebersamaan dan kepuasan hati setelah membantu hajatan keluarga atau tetangga.
Uniknya lagi, dalam tradisi rewang ini ada struktur yang nyaris seperti panitia event profesional.
Ada bagian dapur, bagian konsumsi, bagian penerima tamu, bahkan ada yang khusus bagian dokumentasi kalau perlu.
Tanpa rapat resmi atau proposal, semuanya paham tugasnya masing-masing. Kayak punya SOP tak tertulis yang diwariskan turun-temurun.
Di era modern ini, ketika segalanya cenderung diukur dengan uang, tradisi rewang hadir sebagai pengingat bahwa gotong royong masih punya tempat di hati masyarakat.
Rewang bukan cuma soal bantu-membantu, tapi juga tentang kebersamaan, rasa memiliki, dan solidaritas yang kian langka.
Jadi, lain kali kamu datang ke hajatan di kampung dan melihat ibu-ibu sibuk goreng tempe sambil ngobrol santai, atau bapak-bapak mengangkat meja tanpa banyak omong, jangan buru-buru berpikir mereka dibayar.
Bisa jadi, mereka sedang menjalankan salah satu bentuk paling tulus dari budaya tolong-menolong: rewang, alias landang.
Dan siapa tahu, suatu saat kamu pun akan diberi kehormatan untuk jadi bagian dari mereka. Minimal bagian nyicip rawon di dapur, kan lumayan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni