RADARTUBAN – Tingkat kepercayaan publik terhadap petugas pemadam kebakaran (damkar) sepertinya sudah melewati batas kelaziman dari tugas utamanya sebagai penjinak api.
Semakin ke sini, ada saja masalah yang dilaporkan ke damkar. Dan kali ini benar-benar di luar nalar, dan sekaligus pertama kalinya.
Salah seorang dari Kecamatan Merakurak meminta bantuan petugas damkar untuk mencari gigi palsunya yang hilang.
Kejadian unik itu berlangsung Rabu (18/6) lalu. Melalui call center Damkar Tuban, seorang yang dirahasiakan namanya itu mengaku kehilangan gigi palsunya di dekat kantor balai Desa Bogorejo, Kecamatan Merakurak sekitar pukul 13.00.
Sepertinya, seketika itu pula, petugas damkar yang menerima laporan dari call center Damkar Tuban langsung syok. Ingin tertawa, tapi takut dosa. Ada-ada saja masalah yang dilaporkan ke damkar.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Satpol-PP dan Damkar Tuban Gunadi membenarkan informasi unik tersebut. Dan meski di luar kelaziman, laporan tersebut tetap ditanggapi dengan baik.
Sebagaimana laporan pada umumnya. Namun, khusus laporan gigi palsu ini, petugas memberikan edukasi kepada yang bersangkutan.
‘’Setelah kami tanya, ternyata yang hilang gigi palsu biasa, bukan emas. Setelah itu, kami berikan edukasi. Kami sampaikan, gigi yang sudah jatuh ke tanah berpotensi terkontaminasi bakteri, dan bisa jadi memang sudah longgar, dan kami sarankan untuk konsultasi ke dokter gigi. Alhamdulillah yang bersangkutan bersedia,’’ katanya.
Selain laporan kehilangan gigi palsu, sehari sebelumnya, Selasa (17/6), petugas Damkar Tuban juga menerima laporan tak biasa dari salah seorang warga asal Desa Leran Wetan, Kecamatan Palang.
Dalam laporannya, yang bersangkutan meminta personel damkar untuk mencarikan ponselnya yang jatuh di sumur di wilayah Desa Sugiharjo, Kecamatan Tuban.
Mendapati laporan tersebut petugas Damkar segera mengerahkan personelnya untuk melakukan pertolongan cepat.
Satu unit mesin hisap air dikerahkan di sumur tersebut. Setelah air surut, salah satu personel damkar menuruni lubang dengan pencapit besi saat mengevakuasi ponsel.
‘’Sebelumnya (melakukan penyedotan air, Red), telah izin kepada pemilik sumur. Alhamdulillah HP korban mampu kami evakuasi dan langsung kami serahkan kepada yang bersangkutan,’’ terang Gunadi.
Lebih lanjut dikatakan oleh Ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Tuban itu, jajarannya belakangan ini memang tak hanya melayani persoalan darurat kebakaran saja, tapi juga melayani persoalan non darurat kebakaran seperti evakuasi hewan liar, hingga cincin tersangkut jari.
‘’Terkadang tugas penyelamatan di luar job desk utama kami juga diadukan kepada kami. Sehingga personel kami juga tetap harus sabar dan semaksimal mungkin memberikan pelayanan, edukasi dan penjelasan yang bisa diterima dan tidak menyinggung pelapor,’’ ungkap dia.
Gunadi menambahkan, sejumlah laporan tak lazim yang diterima oleh instansinya antar lain, mengajari anak sekolah belajar, mengambil rapor siswa, mengevakuasi barang masuk selokan hingga warga salah transfer di ATM.
Dirinya mengimbau, selama persoalan yang dihadapi tidak darurat dan tidak mendesak serta bisa dilakukan secara sendiri agar sedapat mungkin diupayakan diatasi secara mandiri atau bersama orang sekitar.
‘’Karena masih banyak persoalan darurat yang setiap saat selalu menunggu pertolongan kami,’’ pungkasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama