RADARTUBAN – Entah kebetulan atau memang sudah direncanakan sejak awal.
SF, 25, tersangka kasus pembunuhan gadis asal Desa Tingkis, Kecamatan Singgahan yang ditemukan membusuk di lahan persawahan desa setempat, Senin (23/6) lalu, ternyata sebulan sebelumnya sudah mengurus surat pindah ke Kabupaten Mojokerto.
Pantas saja banyak warga desa setempat yang terkejut saat polisi menyebut alamat tersangkat dari Sidoarjo.
Untuk memastikan kebenaran alamat tersangka. Kemarin (24/6), Jawa Pos Radar Tuban menyambangi kantor desa setempat.
Kepala Desa Tingkis, Toha membenarkan bahwa pelaku yang menghabisi nyawa korban dengan cara biadab itu merupakan warganya.
Namun, sejak akhir Mei lalu sudah resmi pindah alamat ke Mojokerto.
‘’Dia (tersangka, Red) lahir dan dibesarkan oleh keluarganya di sini (Desa Tingkis, Red),’’ katanya kepada wartawan koran ini saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.
Toha mengatakan, SF mengajukan pindah alamat ke Kabupaten Sidoarjo pada 23 Mei lalu.
‘’Alasannya mengajukan pindah domisili karena mendapatkan pekerjaan di wilayah sana (Sidoarjo, Red). Kebetulan kakaknya juga tinggal di daerah yang sama,’’ bebernya.
Dan entah kebetulan atau memang sudah direncanakan sejak awal, Toha mengaku terkejut dengan rentetan peristiwa dari pindah domisili hingga kasus pembunuhan yang dilakukan warganya tersebut.
‘’Masih tidak menyangka dengan apa yang telah diperbuat (SF, Red), padahal semasa di desa sini berkelakuan baik, bahkan kerap ikut kegiatan keagamaan,’’ imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang perangkat desa setempat yang enggan disebutkan identitasnya, saat ditemui wartawan koran ini mengatakan, SF tumbuh dalam lingkungan yang agamis, bahkan seorang penabuh rebana di salah satu grup musik hardroh.
‘’Yang bersangkutan (SF, Red) ini merupakan anak mantan kepala desa yang pernah menjabat dua periode. Keluarganya pun juga tak menyangka dengan adanya kejadian ini,’’ terang dia.
Terpisah, Kapolsek Singgahan AKP Rukandar mengatakan, dirinya mengimbau kepada masyarakat agar tidak menyebar informasi yang tidak valid atau kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
‘’Kemarin banyak hoaks terkait kasus pembunuhan ini. Untuk itu, kami harap masyarakat dapat selektif menerima informasi,’’ tutur dia.
Lebih lanjut, Rukandar menepis kabar beredar yang menyebut latar belakang cekcok sepasang kekasih itu lantaran gagal bertunangan.
‘’Keluarga pelaku bahkan tidak tahu jika anaknya menjalin hubungan dengan korban, namun dari keterangan pelaku dirinya telah menjalin asmara sejak dua tahun terakhir,’’ bebernya.
Mantan Kapolsek Bangilan itu menambahkan, keluarga korban mengaku jika kehilangan korban sejak Sabtu malam.
Korban berpamitan hendak keluar rumah, namun tidak menyebut secara detail pergi dengan siapa dan tujuannya ke mana.
‘’Sejak terakhir kepergian korban dari rumah hingga penemuan jenazah pada hari Senin (23/6), keluarga korban tidak melapor kepada kami,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama