Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mbah Jabbar dan Cerita Tubuh Harum, Asal Usul Mitos Wangi yang Tak Hilang

M. Afiqul Adib • Jumat, 4 Juli 2025 | 17:35 WIB
Makam Mbah Jabbar di Nglirip, Singgahan, Tuban, jadi tujuan ziarah ribuan orang.
Makam Mbah Jabbar di Nglirip, Singgahan, Tuban, jadi tujuan ziarah ribuan orang.

RADARTUBAN - Di antara kabut pagi dan semilir angin dari perbukitan Nglirip, Singgahan, Tuban, berdiri sebuah makam yang tak pernah sepi dari peziarah.

Makam itu milik seorang tokoh yang namanya harum—secara harfiah dan spiritual—di kalangan masyarakat Tuban: Mbah Jabbar, atau Syekh Abdul Jabbar.

Tapi bukan hanya karena kiprahnya sebagai penyebar Islam dan panglima perang dari Kerajaan Pajang, melainkan juga karena satu hal yang hingga kini masih menjadi buah bibir: jasadnya yang konon mengeluarkan aroma wangi saat dimakamkan.

Fenomena ini dikenal masyarakat sekitar dengan istilah gondowani.

Bukan sekadar mitos yang diceritakan dari mulut ke mulut, tapi sebuah pengalaman kolektif yang diyakini benar-benar terjadi.

Saat Mbah Jabbar wafat, tubuhnya mengeluarkan bau harum yang menyebar hingga ke luar Desa Mulyoagung.

Bukan karena bunga tabur atau minyak wangi, tapi diyakini berasal dari jasad beliau sendiri.

Wangi itu disebut-sebut menyegarkan, menenangkan, dan membuat siapa pun yang hadir saat itu merasa takjub.

Dalam tradisi Islam Nusantara, fenomena jasad wangi bukan hal baru. Banyak ulama dan wali yang diyakini memiliki karomah serupa.

Tapi dalam konteks Mbah Jabbar, wangi tubuhnya menjadi simbol dari kehidupan yang penuh perjuangan dan kesucian. 

Dia bukan hanya seorang ulama, tapi juga mantan panglima perang yang memilih jalan sunyi dakwah setelah kekalahan Kerajaan Pajang dari Belanda pada tahun 1628–1629.

Mbah Jabbar, yang memiliki nama asli Pangeran Sumoyudo, adalah keturunan bangsawan dari Kerajaan Pajang.

Namun, alih-alih hidup dalam kemewahan, ia memilih tinggal di pedalaman Singgahan dan berdakwah dari rumah ke rumah.

Dia dikenal bersahaja, dekat dengan rakyat, dan mengajarkan Islam dengan pendekatan yang lembut namun tegas.

Keharumannya, bisa jadi, adalah metafora dari hidup yang dijalani dengan penuh keikhlasan dan pengabdian.

Setiap tanggal 17 Muharram, masyarakat setempat menggelar haul untuk mengenang perjuangan beliau.

Acara ini berlangsung selama tiga hari dua malam dan dihadiri ribuan peziarah dari berbagai daerah, bahkan hingga Malaysia.

Mereka datang bukan hanya untuk berdoa, tapi juga untuk merasakan kedekatan spiritual dengan sosok yang mereka yakini sebagai wali Allah.

Menariknya, makam Mbah Jabbar tidak dibuka setiap hari. Peziarah hanya diperkenankan berdoa dari luar pagar, kecuali saat haul.

Ini menambah aura sakral dan misterius dari makam tersebut.

Seolah-olah, keharuman itu masih tersimpan rapi di balik pagar dan batu nisan, menunggu untuk disapa oleh mereka yang datang dengan hati bersih.

Fenomena tubuh wangi ini, entah dipercaya secara harfiah atau simbolik, tetap menjadi bagian penting dari narasi spiritual masyarakat Tuban.

Dia bukan sekadar cerita mistik, tapi juga pengingat bahwa hidup yang dijalani dengan tulus, jujur, dan penuh pengabdian akan meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu—seperti wangi yang tak hilang. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#islam #mbah jabbar #nusantara #spiritual #panglima #nglirip #peziarah #singgahan #wangi