RADARTUBAN- Membayangkan Tuban punya bandara itu seperti membayangkan warung kopi di tengah hutan pinus: agak absurd, tapi kalau beneran kejadian, pasti keren.
Kota kecil yang dikenal sebagai Bumi Wali ini memang belum punya bandara sendiri.
Tapi coba bayangkan sejenak: gimana jadinya kalau Tuban beneran punya bandara?
Nah, berikut ini empat hal yang mungkin akan terjadi kalau mimpi itu jadi kenyataan.
1. Pusing Menentukan Lokasi
Masalah pertama yang langsung muncul tentu saja: mau dibangun di mana? Tuban itu kotanya nggak besar-besar amat.
Bahkan, waktu pembangunan mal saja harus “menyempil” di ujung kota. Lah ini bandara, butuh lahan luas, runway panjang, dan akses jalan yang memadai.
Mungkin satu-satunya opsi realistis adalah membangun di wilayah pinggiran, seperti Montong atau Jatirogo. Tapi itu pun harus mengorbankan lahan pertanian atau hutan.
Belum lagi urusan pembebasan lahan yang bisa bikin kepala dinas kehutanan sampai kepala desa ikut pening bareng-bareng.
2. Mobilitas Naik, Tapi Siapkah Infrastruktur?
Kalau bandara beneran berdiri, mobilitas warga Tuban dan sekitarnya pasti meningkat.
Wisatawan dari luar kota bisa langsung mendarat tanpa harus transit di Juanda, Sidoarjo, yang jaraknya sekitar 2,5 jam perjalanan darat.
Tapi pertanyaannya: apakah infrastruktur pendukungnya siap? Jalan menuju bandara, transportasi umum, hotel, hingga layanan darurat harus ikut naik kelas.
Jangan sampai bandara sudah megah, tapi aksesnya masih kayak jalan ke kebun tebu.
3. Ekonomi Lokal Bisa Melejit
Sisi positifnya, bandara bisa jadi pemantik ekonomi lokal. UMKM bisa berkembang, pariwisata bisa naik daun, dan Tuban bisa jadi destinasi baru di Jawa Timur.
Bayangkan, wisatawan bisa langsung terbang ke Tuban untuk ziarah ke makam Sunan Bonang, mampir ke Pantai Boom, atau sekadar ngopi di warung pinggir sawah sambil makan legen.
Belum lagi peluang kerja baru yang tercipta: dari petugas bandara, sopir taksi, sampai penjual cilok di depan terminal keberangkatan.
4. Identitas Kota Bisa Berubah
Tuban selama ini dikenal sebagai kota yang tenang, religius, dan agak “nggak terburu-buru”.
Tapi kalau bandara hadir, ritme kota bisa berubah. Kota yang dulunya santai bisa jadi lebih sibuk, lebih ramai, dan lebih terbuka.
Ini bisa jadi hal baik, tapi juga bisa jadi tantangan. Apakah masyarakat siap dengan perubahan itu? Apakah nilai-nilai lokal bisa tetap dijaga di tengah arus modernisasi?
Yah, pada akhirnya bandara bukan cuma soal pesawat mendarat dan lepas landas.
Ia adalah simbol gerbang baru—gerbang yang bisa membawa kemajuan, tapi juga bisa membawa tantangan.
Jadi, kalau suatu hari kamu dengar kabar “Bandara Internasional Tuban segera dibangun”, jangan langsung tepuk tangan. Coba tanya dulu: “Lah, dibangunnya di mana?” (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni