Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Merefleksi HUT Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1865 di TITD Kwan Sing Bio Tuban: Bermula dari Rumah Kayu yang Dihanyutkan 250 Tahun Silam

Dwi Setiyawan • Kamis, 17 Juli 2025 | 23:50 WIB
TITD Kwan Sing Bio Tuban rayakan HUT Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1865.
TITD Kwan Sing Bio Tuban rayakan HUT Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1865.

RADARTUBAN - Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban sekarang ini memeringati Hari Ulang Tahun (HUT) Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1865.

Peringatan yang digelar setiap tahun itu tidak hanya untuk memberikan penghormatan kepada dewa utama yang disembah tempat ibadah tersebut, namun juga merupakan salah satu tradisi yang paling dihormati dalam budaya Tionghoa.

Begitu memasuki gerbang utama TITD Kwan Sing Bio Tuban, pengunjung langsung dihadapkan pada sebuah bangunan kuno berukuran sekitar 10x14m.

Dinding dan kerangkanya kayu jati.

Bangunan bercat merah menyala itu sangat kontroversi dengan bangunan di sekelilingnya yang megah.

Bangunan berusia lebih dari 250 tahun itu tetap dipertahankan keasliannya.

Bangunan yang menjadi situs sejarah inilah yang menjadi cikal-bakal TITD Kwan Sing Bio Tuban.

Menurut cerita tutur para leluhur kelenteng setempat, bangunan kayu tersebut dulunya milik seorang umat Konghuchu di Tambakboyo.

Tambakboyo adalah kawasan pesisir pantai utara (pantura) yang berjarak sekitar 22 km arah barat Kota Tuban.

Karena kampung ini terancam dibumihanguskan tentara Jepang yang berkuasa ketika itu, rumah ini kemudian diangkat dan dihanyutkan ke Laut Jawa.

Tujuannya, menyelamatkan bangunan tersebut.

Versi lain, rumah ini dinaikkan ke perahu besar tanpa awak. Setelah terseret ombak, bangunan ini terdampar di tepi pantai.

Lokasi terdamparnya rumah kayu tersebut berada persis di tempat bangunan ini berdiri.

‘’Dulunya, kelenteng ini termasuk daerah pantai,’’ tutut almarhum Noerdhin Iskandar alias Le Khing Hien, salah satu tokoh kelenteng ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban pada medio 2001.

Bukti kalau kelenteng ini dulunya berada di wilayah pantai terbukti dengan sering ditemukannya kulit kerang maupun binatang laut yang berkulit keras lainnya setiap menggali tanah di halaman kelenteng maupun kawasan sekitar.

Iskandar mengungkapkan, sejumlah upaya memindahkan bangunan ini. Hanya saja, upaya tersebut gagal. Termasuk oleh pemilik rumah.

Konon, kegagalan memindahkan bangunan tersebut karena ada kekuatan besar yang mempertahankannya.

Kekuatan inilah yang diyakini umat karena daya magis kiemsin atau patung dewa tersebut.

Karena tak bisa dipindahkan, bangunan rumah tersebut akhirnya dipertahankan di tepi pantai hingga sekarang.

Bangunan inilah yang dijadikan tempat sembahyang umat Konghuchu, Tao, dan Buddha.

Karena bangunannya berasal dari Kecamatan Tambakboyo, tempat sembahyang ini dulunya lebih dikenal dengan nama Kelenteng Tambakbayan.

Dalam perkembangannya, karena diperlukan tempat yang lebih luas untuk menempatkan peranti sembahyang, rumah kuno ini kemudian ditambah dengan bangunan terbuka berbahan kayu di bagian depannya.

Kiemsin yang bersemayam di rumah kayu kuno tersebut adalah patung Kwan Sing Tee Koen berikut panji-panji kebesaran dewa ini.

Untuk perawatan bangunan kuno ini, setiap tahun dinding dan kerangka kayunya diperbarui catnya yang didominasi warna merah.

Sementara fisiknya tetap dibiarkan asli. Karena sama sekali tidak tersentuh renovasi, lantai bangunan ini dibiarkan dari tegel kelabu yang kumal dan gupil di sana-sini.

Iskandar menyampaikan, rencana merenovasi bangunan kuno tersebut pernah berkali-kali dilakukan umat kelenteng yang hendak menyumbang.

Namun, setiap kali dimintakan persetujuan kepada Kwan Sing Tee Koen melalui puak pwee atau prosesi ritual meminta persetujuan dengan menggunakan sepasang kayu puak, tak membuahkan hasil.

Dewa utama kelenteng ini menolak dan meminta bangunan tersebut tetap dipertahankan.
Karena sama sekali tidak tersentuh renovasi, tempat sembahyang ini terlihat njomplang dengan bangunan yang mengelilingi.

‘’Mungkin, ini yang menjadikan bangunan ini memiliki tuah,’’ kata salah satu biokong kelenteng. (*/bersambung)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #laut jawa #TITD Kwan Sing Bio #kayu jati #bangunan #kuno