RADARTUBAN-Kiemsin Kongco Kwan Sing Tee Koen tidak hanya memberikan kesakralan pada rumah kayu kuno yang kelak menjadi cikal-bakal kelenteng Kwan Sing Bio Tuban.
Kekuatan magis patung dewa perang yang digambarkan dengan wajah merah dan membawa golok itu pula yang melebur dengan kearifan lokal Tuban.
Sebagai dewa perang, Kongco tidak hanya dihormati karena kehebatan militernya.
Jenderal pada masa Dinasti Han Akhir dan periode awal Tiga Kerajaan di Tiongkok itu juga dijunjung karena sifat-sifatnya.
Itu yang menjadikan Kongco Kwan Sing Tee Koen sebagai simbol kesetiaan, keberanian, dan keadilan.
Nilai-nilai ini menjadi teladan bagi sebagian besar masyarakat Tionghoa selama berabad-abad.
Meski lahir dan lekat dengan sejarah budaya Tiongkok yang jaraknya 7.381 km dari Tuban, nilai keluhuran Kongco menembus dimensi ruang dan waktu.
Dia begitu dekat dengan kearifan lokal kelenteng Tuban.
Itu tergambar dari patung kepiting raksasa di atas pintu gerbang utama kelenteng di Jalan RE Martadinata 1 Tuban itu.
Patung kepiting merupakan simbol kelenteng Kwan Sing Bio Tuban.
Bukan naga, binatang mitologi Tiongkok yang lebih memiliki kedekatan emosional dan geografis dengan sejarah dan legenda dewan perang itu.
Bukan juga macan, singa, atau lainnya.
Di dunia, hanya kelenteng yang menghadap Laut Jawa ini yang menggunakan lambang kepiting.
Belum ada satu pun rujukan yang mengaitkan kehidupan dewa perang yang diperkirakan lahir 160 Masehi di Xie County, Provinsi Shanxi, Tiongkok itu dengan kepiting.
Berdasarkan cerita tokoh kelenteng Tuban, dipilihnya kepiting sebagai lambang kelenteng tidak terjadi secara kebetulan.
Seperti diceritakan almarhum Kwee Kok Djiang alias Hendra Susanto.
Dia menuturkan, pada era 1960-an, salah satu pengurus kelenteng bernama Kwan Cong Han mendapat firasat ketika tidur di tempat ibadah tersebut.
Dalam kondisi mimpi dan setengah terjaga, dia melihat seekor kepiting berukuran besar berjalan dari tambak di belakang kelenteng menuju altar atau tempat sembahyangan.
‘’Sejak itu, pengurus memutuskan membangun patung raksasa kepiting di atas pintu gerbang utama sekaligus menjadikannya sebagai lambang,’’ ujar tokoh spiritual kelenteng Kwan Sing Bio Tuban pada pertengahan 2019.
Lebih dari 65 tahun simbol kepiting di kelenteng Tuban dipertahankan menjadi identitas.
Simbol kepiting seperti telah mewakili keyakinan, nilai, dan konsep kelokalan tempat ibadah setempat.
Realitas ini mencerminkan bahwa Kongco bukan hanya simbol kepercayaan dan sejarah Tiongkok, namun juga pengingat terhadap tradisi budaya dan nilai-nilai kearifan lokal umat di tempat ibadah yang memujanya.
Nilai keluhuran Kongco Kwan Sing Tee Koen yang hidup berabad-abad silam ternyata tetap universal dan relevan dalam kehidupan umat tri dharma (Konghucu, Tao, dan Buddha) sekarang.(*)
Editor : Dwi Setiyawan