RADARTUBAN – Tidak seperti sebelumnya yang terlihat sangat ramai. Kemarin (23/7), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Pucangan, Kecamatan Montong tampak lengang.
Tidak ada lagi aktivitas jual beli. Padahal, koperasi desa (kopdes) yang dulunya minimarket Toserba Pondok Pesantren Sunan Drajat itu tidak pernah sepi.
Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, hanya selang dua hari pasca diresmikan Senin (21/7) lalu, gerai sembako andalan KDMP Pucangan yang diklaim memiliki omzet Rp 600 juta per bulan itu tinggal menyisakan ruang hampa dan rak-rak kosong.
Berbagai macam kebutuhan rumah tangga dan jajanan yang dua hari lalu masih ter-display rapi, tak lagi terlihat.
Itu menyusul hengkangnya PT Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat (PPSD), mitra koperasi yang kecewa dengan sikap pengelola KDMP Pucangan.
Selain hampir tidak ada lagi barang yang dijual, tampilan depan gerai juga berubah total. Tidak ada lagi plang nama di atas bangunan koperasi tersebut.
Sehari pasca di-launching, satu persatu plang yang mencantumkan nama Ponpes Sunan Drajat diturunkan. Termasuk neon box, juga tidak luput ditanggalkan.
Tidak sedikit warga yang hendak berbelanja di “minimarket” KDMP Pucangan tersebut kecele.
‘’Sebenarnya, tadi ketika mau masuk itu saya mikir-mikir, apakah benar buka atau tidak, untuk memastikan saya masuk, ternyata sudah tidak ada apa pun di dalam,’’ ujar Sundari salah satu warga Desa Talun, Kecamatan Montong yang biasa berbelanja di toko KDMP Pucangan yang dulunya Toserba itu.
Beberapa warga lain yang ditemui wartawan koran ini juga mengaku tidak tahu jika KDMP Pucangan bermasalah dengan mitra bisnisnya.
Kepala Desa Pucangan Santiko mengatakan, setelah kejadian putus kontrak dengan PPSD, pihaknya masih berharap kerja sama dengan pesantren yang beralamat di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan tersebut.
Sebab, sebelum KDMP yang dikelolanya itu beroperasi, sudah hampir dua tahun menjalin kerja sama.
Mulai dari membuka gerai franchise Toserba oleh desa dan keuntungannya masuk ke desa.
‘’Saya berharap kerja sama dengan Ponpes Sunan Drajat bisa terus berlanjut,’’ ujarnya.
Disinggung terkait tidak disebutnya nama PT PPSD saat berkontak video call dengan Presiden Prabowo pada momen peresmian Senin (21/7) lalu, yang kemudian menyebabkan pihak PPSD kecewa karena merasa kemitraannya dengan KPMD Pucangan tidak dihargai, Santiko mengaku tidak bermaksud demikian.
Dia berdalih saat itu grogi, sehingga lupa menyebut PT PPSD.
‘’Saat itu saya tiba-tiba diberikan mikrofon. Jadi, saya hanya menyampaikan seadanya, dan mohon maaf jika ada hal yang kurang tepat,’’ pungkasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama