Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sound Horeg Harus Dicarikan Solusi, Jangan Hanya Sekadar Dilarang

Andreyan (An) • Senin, 28 Juli 2025 | 00:10 WIB

 

Karnaval sound horeg pada acara peringatan kemerdekaan pada tahun lalu di wilayah Kecamatan Widang.
Karnaval sound horeg pada acara peringatan kemerdekaan pada tahun lalu di wilayah Kecamatan Widang.

RADARTUBAN – Kendati mendapat banyak sambutan positif dari masyarakat, namun tidak sedikit pula yang menyayangkan larangan penyelenggaraan kegiatan sound horeg yang diterbitkan Polres Tuban.

Seperti yang disampaikan Pengasuh Ponpes Ash Shomadiyah Tuban Riza Shalihuddin Habibi.

Kepada Jawa Pos Radar Tuban, Gus Riza—sapaan akrabnya—mengatakan, pelarangan penyelenggaraan sound horeg seharusnya dikaji lebih komprehensif dari berbagai sudut pandang.

Pasalnya, banyak juga masyarakat yang menggantungkan nasib dari kegiatan tersebut.

‘’Memang benar, pelarangannya demi menjaga ketertiban di masyarakat, dan saya setuju dengan poin tersebut. Hanya saja, jika ada sektor perekonomian masyarakat terdampak, artinya keputusan pelarangan itu masih kurang tepat,’’ tuturnya.

Lebih lanjut, kiai muda itu mengatakan, seharusnya pemerintah bisa hadir di tengah-tengah masyarakat, atau mengundang seluruh lintas sektor yang terdampak dan terlibat untuk duduk dalam satu ruangan mencari jalan tengah persoalan yang kini menjadi perbincangan hangat tersebut.

‘’Harusnya, pemerintah tetap memberikan ruang bagi mereka (pengusaha sound horeg, Red) untuk unjuk kebolehan alat yang dimainkan, dan tentu dengan regulasi yang jelas, sehingga tidak merugikan pihak mana pun,’’ tandasnya.

Sementara itu, AL, salah satu pengusaha sound horeg asal Kecamatan Plumpang menuturkan, biasanya, dalam momen agustusan ini penghasilannya meningkat lantaran banyak yang menyewa sound miliknya.

‘’(Setelah ada larangan, Red) kini turut terkena dampaknya, banyak penyewa yang tiba-tiba membatalkan (persewaan sound, Red),’’ keluh dia.

Lebih lanjut dikatakan AL, keputusan pelarangan penggunaan sound horeg pada kegiatan karnaval di hari kemerdekaan merupakan keputusan gegabah.

Tanpa memikirkan nasib masyarakat yang hidup dari usaha sound.

‘’Kami legowo jika memang ada pelarangan, tapi paling tidak juga dicarikan solusi jalan tengah terhadap persoalan ini terutama terhadap para pelaku usaha sound yang akhirnya terkena dampaknya,’’ tandasnya. (an/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #sound horeg #polres #Ponpes Ash Shomadiyah