Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Desa Temaji Mandiri Mengolah Sampahnya, Diinisiasi Lulusan SD, Keuntungan Jual Sampah untuk Membantu Kegiatan Sosial Warga

Dwi Setiyawan • Rabu, 30 Juli 2025 | 04:45 WIB

Bakrun (kiri) diwawancarai tim monev bersama stakeholder program CSR PT SI Pabrik Tuban, Selasa (29/7).
Bakrun (kiri) diwawancarai tim monev bersama stakeholder program CSR PT SI Pabrik Tuban, Selasa (29/7).

Tidak semua desa di Kabupaten Tuban mampu mengatasi problem sampah di desanya. Akibatnya, sampah berceceran di mana-mana. Terutama di sepanjang tepi jalan desa. Desa Temaji, Kecamatan Jenu bisa diteladani karena memiliki pengolahan sampah sendiri.

  SETIAP kali melihat tumpukan sampah yang bersebelahan dengan dua jembatan di desanya, Jembatan Kalibele dan Jembatan Korapmaji, hati Bakrun bergejolak.

Dia tidak bisa menerima. Terlebih, dua jembatan di perlintasan jalur Tuban—Semarang itu di jalan nasional.

Pria 37 tahun itu tak sepenuhnya menyalahkan warga yang membuang. Itu karena di kampungnya, Desa Temaji, Kecamatan Jenu belum memiliki tempat sampah.

Desa di pesisir pantai utara ini juga belum mampu mengolah sampah warganya yang setiap hari menggunung.

Selain menumpuk di area dua jembatan tersebut, sampah juga teronggok di dua tepi jalan lainnya. Kondisinya juga tak kalah parah.

Kondisi yang kurang lebih sama juga dialami tetangga desanya, Purworejo.

Problem akut sampah di Temaji dua tahun silam itu mendapat atensi serius dari Pemkab Tuban. Setiap minggu, pemkab mengerahkan truk-truk sampahnya untuk mengangkuti sampah di dua jembatan tersebut.

Pemkab juga memasang baliho besar di samping Jembatan Korapmaji. Tulisannya; Terima Kasih, Anda Tidak Membuang Sampah di Sini. Buanglah Sampah ke TPS Terdekat.

Bakrun menyadari larangan membuang sampah tidak memberikan solusi. Kalau tidak di area jembatan, di mana sampah dibuang? Problem itulah yang mengganggu tidur pulasnya ketika itu.

Bakrun bukanlah siapa-siapa. Pendidikan formalnya pun hanya lulusan SD pada 1999.

Semangatnya yang cukup tinggi untuk menempuh pendidikan dasar membimbingnya mengikuti kejar paket B dan C sederajat SMP dan SMA beberapa tahun kemudian. 

Tim monev bersama stakeholder program CSR PT SI Pabrik Tuban melihat kondisi pengolahan sampah di Desa Temaji, Kecamatan Jenu.
Tim monev bersama stakeholder program CSR PT SI Pabrik Tuban melihat kondisi pengolahan sampah di Desa Temaji, Kecamatan Jenu.

Sekarang ini, dia kuliah di jurusan perikanan Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban.

Meski terpelajar, penampilan Bakrun tetap sederhana. Ketika menemui tim monev, pengusaha batu clay itu hanya mengenakan kaus biru muda, training abu-abu, dan bersandal japit. Sama sekali tidak menunjukkan status sosialnya yang berada.

Ketua Karang Taruna Panca Bakti Temaji itu mendirikan pengolahan sampah pada November 2023. Tekadnya mendapat dukungan dari Bumdes Tirta Mandala Temaji.

Setelah mendirikan pengolahan sampah, Bakrun membuat baliho ‘’tandingan’’ di sebelah baliho pemkab. Tulisannya kurang lebih begini: Mohon Tidak Membuang Sampah di Sini. Tempat Pembuangan Sampah Sudah Disediakan di Sebelah Selatan Jalan. Dari Tempat Ini sekitar 200M.

Gagasan Bakrun disambut PT Semen Indonesia (SI) Pabrik Tuban. Pabrik semen itu mendukungnya dengan memberikan bantuan motor bergerobak, gerobak, dan bangunan untuk pengolahan sampah.

‘’Sekarang sudah tidak ada sampah menumpuk di jembatan dan jalan-jalan desa,’’ tutur bapak satu anak itu kepada tim monitoring evaluasi (monev) bersama stakeholder program CSR PT SI Pabrik Tuban, Selasa (29/7).

Bakrun mengatakan, pendirian pengolahan sampah adalah solusi masalah akut persampahan di desanya. ‘’Dengan berdirinya pengolahan sampah, sampah tidak akan berserakan dan warga memiliki budaya hidup bersih,’’ ujarnya.

Yang disampaikan Bakrun tidak berlebihan. Pengolahan sampah yang didirikan tidak hanya berhasil mengumpulkan sampah rumah tangga di Dusun Karanganyar, Desa Temaji, namun juga Dusun Karanganyar, Desa Purworejo yang bersebelahan.

Ke depan, dia berharap sampah dari empat dusun lain di Temaji juga dikelolanya. Keempat dusun tersebut, Krajan, Jajar, Kerangrejo, dan Glagah.

Untuk operasional pengumpulan sampah, dia meminta iuran Rp 20 ribu setiap rumah. Dana ini untuk membeli bahan bakar motor bergerobak yang setiap dua hari sekali memunguti sampah di rumah-rumah. Dana tersebut juga untuk operasional mengolah sampah.

Ya, sampah yang dikumpulkan dari rumah-rumah warga tersebut tidak hanya ditumpuk di tempat pengolahan.

Managemen pengolah itulah yang dikuasi Bakrun setelah studi banding di sejumlah desa yang berhasil menuntaskan problem sampah.

Pada lahan desa seluas 1.500 meter persegi, sampah-sampah itu benar-benar diolah.

Dimulai dengan pemilihan sampah anorganik, seperti plastik, kardus, dan kertas.

Sampah jenis ini dikumpulkan untuk dijual dua bulan sekali. Sampah anorganik lain yang tidak bisa dimanfaatkan, dimusnahkan.

Sedangkan sampah organik ditimbun hingga membusuk. Setelah disaring, sampah tersebut dikemas dalam kantong 5 kg untuk dijual menjadi pupuk. Harganya Rp 6 ribu per kemasan.

Untuk mengolah sampah-sampah tersebut, Bakrun melibatkan sepuluh orang. Mereka yang tidak digaji seperti dirinya memosisikan sebagai sukarelawan. Satu-satunya personel Bakrun yang digaji hanya yang bertugas memunguti sampah dan pemilah.

Bakrun mengakui tidak semua warga mampu membayar iuran pengolahan sampah Rp 20 ribu per bulan. Di Temaji, misalnya. Hanya 125 KK yang membayar iuran. Begitu juga di Purworejo hanya 24 KK.

Kepada mereka, dia tetap memberikan edukasi untuk tidak membuang sampah sembarangan. Meski tidak memberikan kontribusi iuran, mereka diminta membuang sampah sendiri di tempat pengolahan sampah.

Khusus tempat ibadah dan sekolah, dibebaskan dari iuran.

Selama hampir dua tahun mengolah sampah, Bakrun tidak hanya berhasil membebaskan desanya dan Purworejo dalam problem limbah rumah tangga.

Lembaga pengolahan sampah yang dipimpinnya juga memberikan nilai positif. Salah satunya materi. ‘’Sekarang, kita memiliki saldo Rp 1,5 juta,’’ ujarnya.

Nilai positif berikutnya, motor gerobak berikut operatornya selalu diterjunkan untuk membantu kegiatan sosial di desanya. Mulai mengangkuti keperluan warga yang punya hajatan hingga acara desa. ‘’Untuk kegiatan sosial ini, kita tidak meminta imbalan. Ini bentuk bantuan kita,’’ tuturnya.

Publik Relation and Corporate Social Responsibility Management Officer PT Semen Indonesia Pabrik Tuban, Luksono mengatakan, perusahaannya men-support penuh program karang taruna dan Bumdes Temaji untuk mengolah sampah secara mandiri.

Dia menegaskan dukungan tersebut terus berlanjut. Kalau sekarang ini pengolahan masih dalam skala kecil, ke depan, sejumlah konsep alternatif bisa ditawarkan.

Di antaranya, menjadi bahan bakar alternatif untuk pabrik semen, menggantikan sebagian batu bara atau refuse derived fuel (RDF).

Konsep berikutnya menjadikan sampah plastik sebagai bahan batako dan menjadikan sampah organik sebagai maggot.(*)

 

Editor : Dwi Setiyawan
#Pemkab Tuban #sampah #Kecamatan Jenu