RADARTUBAN – Seperti api dalam sekam. Dugaan penyelewengan pendapatan asli desa (PADes) dari pengelolaan usaha Hippa (himpunan petani pemakai air) oleh Kepala Desa Kepohagung, Kecamatan Plumpang, yang awalnya hanya rasan-rasan, akhirnya membara, Sabtu (3/8) lalu.
Warga yang sudah lama menahan amarah beramai-ramai meluruk kantor balai desa setempat.
Mereka menuntut kejelasan pengelolaan dana Hippa yang diduga digelapkan oleh kepala desa setempat, Dono Samuri. Tak tanggung-tanggung, totalnya diperkirakan mencapai Rp 1,1 miliar.
Koordinator aksi, Ahmad Ikhya’ mengatakan, membuncahnya amarah warga ini berawal dari permohonan perbaikan jalan lingkungan yang diajukan warga pada awal Juli lalu.
Namun, pihak pemerintah desa kompak menyatakan bahwa tidak ada anggaran yang bisa dipakai. Bahkan, katanya, desa tidak memiliki dana sepeser pun.
Berawal dari kejanggalan tersebut, Ikhya’ bersama warga melakukan investigasi pengelolaan keuangan desa setempat.
Lalu, didapati data dan informasi, Desa Kepohagung memiliki kas dari PADes Hippa senilai kurang lebih Rp 845 juta dan dari investor Hippa senilai Rp 290 juta. Totalnya, Rp 1 miliar lebih.
Atas dasar data tersebut, warga kemudian mengajukan audiensi dengan pemerintah desa pada 16 Juli lalu.
Namun, kepala desa mangkir dalam pertemuan tersebut. Warga masih cukup bersabar dan kembali mengajukan permohonan audiensi pada 22 Juli.
Dalam pertemuan yang kedua itu, Dono Samuri akhirnya muncul di depan warganya, dan mengakui bahwa uang desa yang dimaksud warga masih simpan.
‘’Pada pertemuan itu, Pak Kades berjanji akan mengembalikan uang pada 2 Agustus,’’ beber Ikhya’.
Namun, hingga batas waktu yang dijanjikan sendiri, Dono Samuri malah menghilang. Tidak ada satu pun perangkat yang tahu keberadaan si kades.
Lelah menunggu dan tak kunjung ada kepastian, warga kemudian berinisiatif menyegel kantor balai desa.
Dikatakan Ikhya’, penyegelan yang dilakukan warga karena kecewa dengan pemerintah desa setempat.
‘’Awalnya kami ingin menyegel balai desa, tapi banyak pertimbangan, sehingga hanya menyegel ruangan kades saja,’’ katanya.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis tadi malam, Kades Donos Samuri tidak bisa dikonfirmasi.
Pesan pertanyaan yang dikirim wartawan koran ini melalui WhatsApp hanya didiamkan.
Begitupun Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kepohagung Listya Dwi Winarko, juga memilih bungkam. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama