Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Sayan: Tradisi Gotong Royong dalam Pembangunan Rumah Warga Tuban

M. Afiqul Adib • Minggu, 10 Agustus 2025 | 00:05 WIB
ilustrasi gotong royong dalam membangun sebuah rumah
ilustrasi gotong royong dalam membangun sebuah rumah

RADARTUBAN - Di tengah arus modernisasi dan individualisme yang makin kuat, masyarakat Tuban masih menjaga satu tradisi yang menjadi simbol solidaritas lokal: Sayan.

Di beberapa daerah disebut Soyo, di tempat lain mungkin punya nama berbeda. Tapi esensinya tetap sama—gotong royong dalam pembangunan atau perbaikan rumah warga, dilakukan secara sukarela tanpa imbalan finansial.

Tradisi Sayan adalah ekspresi nyata dari semangat kebersamaan. Ketika satu warga hendak membangun atau memperbaiki rumah, warga lain akan datang membantu.

Laki-laki biasanya terlibat langsung dalam proses pembangunan, mulai dari mengangkat bahan bangunan hingga membantu tukang.

Sementara perempuan ikut berperan dengan menyiapkan makanan, memasak tumpeng, dan membantu tuan rumah menyambut para peserta Sayan.

Sayan bukan hanya soal tenaga, tapi juga soal rasa. Tradisi ini didasarkan pada prinsip timbal balik, di mana bantuan yang diberikan hari ini akan dibalas di lain waktu, bukan dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk kehadiran dan dukungan.

Dalam masyarakat Jawa, Sayan menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas antarwarga, membangun rasa kekerabatan, dan menjaga harmoni sosial.

Sosiolog klasik Emile Durkheim menyebut solidaritas sosial sebagai fondasi stabilitas masyarakat.

Tradisi Sayan adalah contoh konkret dari konsep itu. Ia berfungsi sebagai perekat sosial, menciptakan hubungan yang lebih erat antarindividu, dan menjadi landasan kokoh bagi persatuan warga desa.

Sebelum pelaksanaan Sayan, tuan rumah biasanya mengadakan kenduren atau doa bersama.

Kenduren ini bukan sekadar ritual, tapi bentuk permohonan agar proses pembangunan berjalan lancar dan rumah yang dibangun membawa kedamaian bagi penghuninya.

Dalam kenduren, disajikan tumpeng dan jenang sengkolo—simbol harapan dan perlindungan dari hal-hal buruk.

Selain itu, tuan rumah juga menyiapkan sesajen atau cokbakal. Cokbakal dipercaya membawa keselamatan dan ketenangan.

Kehadiran unsur spiritual dalam tradisi Sayan menunjukkan bahwa pembangunan rumah bukan hanya soal fisik, tapi juga soal batin. Rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang hidup yang harus diberkahi.

Di tengah perubahan zaman, tradisi Sayan menjadi pengingat bahwa kebersamaan masih punya tempat.

Ia bukan sekadar warisan budaya, tapi juga sistem sosial yang efektif dan manusiawi.

Dengan mempertahankan Sayan, masyarakat Tuban tidak hanya membentuk komunitas yang kuat dan penuh kasih sayang, tapi juga menjaga akar budaya dan memastikan nilai-nilai leluhur tetap hidup dalam praktik sehari-hari.

Jadi, kalau di tempatmu tradisi ini masih ada, jangan ragu untuk ikut. Karena dalam Sayan, kita tidak hanya membangun rumah, tapi juga membangun rasa. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #gotong royong #Tradisi sayan #solidaritas #SAYAN