Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dilatih Disiplin dan Bangun Pagi, Kebiasaan Baru Anak-Anak di Asrama Sekolah Rakyat

Andreyan (An) • Minggu, 17 Agustus 2025 | 00:05 WIB
BERSEMANGAT: Para siswa SR tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan MPLS hari pertama, kemarin (15/8).
BERSEMANGAT: Para siswa SR tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan MPLS hari pertama, kemarin (15/8).

RADARTUBAN - Senyum ceria dan penuh semangat terpancar dari wajah-wajah siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 18 Kabupaten Tuban di hari pertama mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), kemarin (15/8).

Dalam setiap gurat mereka tersimpan tekad dan harapan untuk mengubah nasib keluarganya masing-masing.

Bahkan, sebagian dari anak-anak dari keluarga tidak mampu ini menganggap bahwa program SR merupakan jembatan untuk meraih sukses di hari esok, seperti yang dirasakan Santi, siswi SR asal Desa Sawir, Kecamatan Tambakboyo saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di sela istirahat kegiatan MPLS kemarin.

Gadis 15 tahun itu tampak bersemangat tinggal di asrama dan mengikuti rangkaian kegiatan MPLS.

Diungkapkan siswi kelas VII SMP itu, sebelum namanya dipanggil untuk bersekolah di SR, yang saat ini berlokasi di kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Tuban, Santi bersekolah di SDN Sawir hingga bangku kelas 6 SD, namun tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP.

Dengan suara lirih, dia mengungkapkan, keterbatasan ekonomi keluarga menjadi faktor utama putus sekolah.

"Alhamdulillah, sekarang bisa sekolah lagi. Tentunya sangat senang dan bangga bisa menjadi siswa SR. Apalagi, keluarga juga tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun,’’ ungkap dia.

Saat Jawa Pos Radar Tuban menanyakan cita-cita setelah lulus dari SR, Santi tampak tertunduk malu—seakan mengisyaratkan tidak percaya bahwa anak buruh tani serabutan bisa meraih cita-cita setinggi langit.

Setelah wartawan koran ini berhasil meyakinkannya, dia baru berani mengungkapkan cita-cita menjadi guru.

Nasib serupa dirasakan Nisa, siswi SR asal Kecamatan Kerek yang juga sempat putus sekolah selama dua tahun—sebelum namanya terpilih menjadi salah satu siswa SR di Tuban.

"Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang saya dapatkan sekarang ini,’’ tutur dia.

Lebih lanjut dikatakan olehnya, rasa cemas tentang nasib di masa depan sempat menyelimutinya sebelum adanya program SR.

Nisa hanya bisa pasrah pada waktu itu menapaki kenyataan bahwa untuk bersekolah saja sangatlah sulit untuk digapainya.

"Saya akan belajar sungguh-sungguh di sini (sekolah rakyat, Red) agar bisa meraih cita-cita saya menjadi dokter,’’ harapnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Tuban di lokasi, ada lima siswa SR yang sempat putus sekolah sebelum namanya dipanggil untuk bersekolah di SR Terintegrasi 18 Tuban. Rinciannya, 3 siswa putus sekolah satu tahun, dan 2 siswa putus sekolah dua tahun.

Sementara itu, Kepala SR Terintegrasi 18 Kabupaten Tuban Vera Khairun Nissa menyampaikan, dalam kegiatan MPLS hari pertama ini seluruh siswa mengikuti materi mayoritas di luar ruangan. Tidak ada pengelompokan dari latar belakang masing-masing siswa.

"Para siswa dibekali dengan pendidikan karakter, masa pengenalan lingkungan sekolah, penerapan disiplin di dalam kelas dan asrama bahkan kegiatan awal dari anak bangun tidur sampai nanti tidur lagi akan terprogram,’’ jelas dia.

Diungkapkan Vera, pada MPLS hari pertama kemarin (15/8), satu siswa absen mengikuti MPLS dikarenakan sakit. Siswa tersebut dari rombongan belajar (rombel) jenjang SMP.

"Karena kelelahan lantaran tidurnya larut malam, mungkin karena masih adaptasi tempat. Namun kondisinya saat ini sudah cukup membaik,’’ ujar dia.

Lebih lanjut dikatakan olehnya, dalam mengikuti kegiatan berasrama dan MPLS para siswa juga akan dikenalkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat meliputi, bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

"Kegiatan di dalam asrama nantinya juga akan terstruktur dan terprogram, yang jelas para siswa akan lebih banyak mendapatkan pendalaman soal keagamaan dan pembentukan karakter kedisiplinan. Mungkin yang membedakan kita (Sekolah Rakyat, Red) dengan sekolah reguler lainnya,’’ tandasnya. (an/tok)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #putus sekolah #masalah ekonomi #Sekolah Rakyat #mpls #sr