RADARTUBAN – Kemarau basah yang terjadi tahun ini cukup meringankan beban kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban.
Jika biasanya—pada pertengahan tahun seperti sekarang ini—disibukkan dengan kegiatan dropping air bersih ke banyak desa yang terdampak kekeringan, kini sedikit santai.
Kepala Pelaksana BPBD Tuban Sudarmaji mengatakan, sampai saat ini baru ada satu permintaan dropping air, yakni dari Desa Brangkal, Kecamatan Parengan. Itu pun masih dalam tahap asesmen atau proses pengumpulan data warga yang membutuhkan air bersih.
‘’Karena tahun ini tergolong musim kemarau basah, hingga Agustus ini belum banyak yang mengirimkan permintaan dropping air bersih,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Darmaji—sapaan akrabnya—mengatakan, meski dalam musim kemarau, namun stok air di beberapa daerah masih mencukupi. Sebab, curah hujan tahun ini tergolong cukup intens dibanding dengan tahun lalu.
Dia mengungkapkan, di periode yang sama tahun lalu, dropping air bersih menyasar puluh desa di sembilan kecamatan, yakni Jatirogo, Kenduruan, Bangilan, Senori, Montong, Semanding, Grabakan, Rengel, dan Soko.
‘’Desa-desa yang mengalami kekurangan air bersih saat musim kemarau disebabkan karena sumber-sumber air di sana ikut berkurang, sehingga tidak bisa mengkaver kebutuhan air bersih semua warga di daerah tersebut meski memiliki SPAM (sistem pelayanan air minum) baik itu dilayani oleh PDAM maupun hippam,” ujarnya.
Lebih lanjut, mantan Camat Plumpang itu mengatakan, meskipun nanti jumlah wilayah yang membutuhkan dropping air bersih bertambah, namun tidak akan sebanyak tahun lalu. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama