RADARTUBAN – Puluhan nelayan di Desa/Kecamatan Palang seketika kehilangan mata pencaharian pasca cuaca buruk melanda wilayah setempat pada Selasa (19/8).
Angin kencang dan gelombang tinggi itu merusak sejumlah kapal penangkap ikan milik nelayan setempat.
Kepala Desa/Kecamatan Palang As’ad mengatakan, dari laporan yang diterimanya, sedikitnya tujuh kapal penangkap ikan yang rusak akibat bencana tersebut.
‘’Tiga kapal rusak parah, empat kapal rusak ringan. Tidak ada korban jiwa atas peristiwa itu,’’ ungkap dia saat dikonfirmasi wartawan koran ini, kemarin (20/8).
Disampaikan As’ad, kerusakan kapal akibat tidak adanya penangkis ombak.
Sehingga, antarkapal yang bersandar saling bertabrakan hingga rusak.
‘’Semoga Pemkab Tuban bisa menjadikan peristiwa ini sebagai atensi untuk bisa membangunkan tempat labuhnya kapal penangkap ikan yang layak dan aman dari terjangan ombak,’ harapnya.
Sementara itu, Yaskuri, salah satu nelayan desa setempat menuturkan, akibat kapal yang biasa digunakan melaut dalam kondisi rusak.
Kini, dirinya bersama puluhan nelayan lain terancam kehilangan pekerjaan, dan diprediksi berlangsung cukup lama.
‘’Biasanya, kalau rusak parah seperti ini butuh waktu 3-4 bulan untuk perbaikan, sehingga otomatis bakal tidak ada pemasukan, karena harus menunggu kapal selesai diperbaiki,’’ keluhnya.
Lebih lanjut dikatakan pria paro baya itu, cuaca buruk hingga merusak kapal ini sudah dua kali dijumpainya.
Pada peristiwa nahas kemarin, dirinya posisi berada di atas kapal hendak berangkat bersama 19 awak kapal lainnya.
‘’Tiba-tiba gelombang tinggi, air masuk kapal semua perbekalan dan bahan bakar ludes,’’ bebernya. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden di laut tersebut.
Senada yang dikatakan Solin, pemilik kapal rusak asal desa setempat.
Atas kondisi tersebut, dirinya hanya bisa pasrah sembari duduk tepekur memandangi puing-puing kerusakan kapalnya.
Diungkapkan dia, akibat insiden tersebut, kerugian ditaksir mencapai ratusan juta untuk melakukan perbaikan kapal.
‘’Taksiran kami, kurang lebih mencapai Rp 150 juta untuk memperbaiki kapal yang rusak ini. Itu pun belum terhitung kerugian dari perbekalan, logistik, bahan bakar yang hanyut dibawa ombak, dan sekarang kehilangan mata pencaharian,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama