RADARTUBAN - Yang dikhawatirkan para pedagang kantin sekolah menyusul program makan bergizi gratis (MBG) akhirnya terjadi.
Sejak program andalan Presiden RI Prabowo Subianto ini digulirkan, pendapatan pedagang kantin sekolah merosot hingga 50 persen.
Siang itu, Mursimun, salah satu pedagang kantin di SMPN 6 Tuban, terlihat duduk termangu sambil berpangku tangan—memandang ke arah petugas satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang lalu lalang mengantar menu MBG untuk para siswa sekolah setempat.
Sementara di sisi sebaliknya, sejak program MBG menyasar sekolah tempatnya berdagang, kondisi kantinnya perlahan sepi.
Tidak ada lagi siswa yang membeli makanan di kantinnya. Satu-satunya jualan yang masih bisa diandalkan hanya snack. Dan saking sepinya, kini omzet hariannya merosot hingga 50 persen.
Kondisi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya itu memaksa Mursi—sapaan akrabnya—mencari penghasilan tambahan di luar kantin sekolah.
Sebab, jika kondisi seperti ini terus berlanjut, usaha kantinnya terancam gulung tikar.
‘’Sebelum ada MBG, biasanya bisa mengumpulkan omzet Rp 1,2-1,5 juta dalam sehari, kini rata-rata hanya Rp 500 ribu,’’ katanya.
Kendati masih ada sebagian siswa yang membeli makan, namun jumlahnya sangat sedikit.
Jika sebelum ada MBG bisa menghabiskan 7-8 kg beras, kini mentok hanya 3-4 kg saja. Kadang malah lebih sedikit.
‘’MBG di sini (SMPN 6, Red) biasanya datang saat makan siang, jadi kalau istirahat pertama masih anak-anak ada yang sarapan di kantin,’’ ujarnya.
Mursi berangan-angan, andai program MBG diserahkan kepada pedagang kantin di masing-masing sekolah pasti akan sejahtera.
Namun sayang, program yang bakal menghabiskan anggaran ratusan triliun ini sama sekali tidak menyentuh pedagang kanting.
Sebaliknya, malah mengancam keberadaan pedagang kantin sekolah.
Senada diungkapkan Herlin Agustina, penanggung jawab kantin di SDN Kutorejo I.
Dia mengatakan, omzet pedagang di kantin sekolahnya juga turun drastis. Rata-rata 50 persen, bahkan lebih.
Dari yang sebelumnya selalu menyediakan menu makanan saban hari, kini hanya seminggu sekali.
‘’Sebelum ada MBG kami pasti memasak menu makanan untuk anak-anak setiap hari, tapi sekarang hanya memasak di hari Sabtu—saat tidak ada MBG. Selain itu, jumlah jajanannya juga mau tidak mau harus dikurangi,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan, penurunan omzet pedagang di kantin-kantin sekolah juga terjadi pada pedagang lainnya.
Sebab, anak-anak akan mengurangi kebiasaan jajan di kantin sekolah saat waktu istirahat tiba. Diganti makan siang gratis dari pemerintah.
‘’Meskipun dapat MBG, anak-anak terkadang masih jajan. Hanya saja, intensitasnya berkurang. Kalau biasanya mereka jajan tiga kali selama istirahat pertama, istirahat kedua, dan pulang sekolah, sekarang hanya jajan saat istirahat kedua atau pulang sekolah. Mereka sudah kenyang dari makanan MBG itu,” jelasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama