RADARTUBAN – Kesehatan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan pangan yang cukup dan bergizi seimbang.
Karena itu, peran Poliklinik Desa (Polindes) dinilai sangat penting. Selain sebagai pusat layanan kesehatan dasar, Polindes juga bisa menjadi motor penggerak kemandirian pangan bagi warga.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Proyek GRR Tuban melalui PT Kilang Pertamina Internasional menggandeng Polindes Kartika, Desa Wadung, Kecamatan Jenu.
Mereka bersama-sama mengembangkan sumber pangan mandiri lewat kebun dan perikanan akuaponik.
Program ini diluncurkan pada Kamis (28/8) di Balai Desa Wadung, bersamaan dengan kegiatan edukasi kesehatan bertajuk Cantik di Hati (Cara PRPP Ikut Mengembangkan Masyarakat Sehat Sejati).
Baca Juga: Lomba Cerdas Cermat Islami: Upaya PRPP Mendorong Pendidikan Agama di Kalangan Generasi Muda
Dalam kesempatan itu, juga diserahkan perangkat akuaponik untuk mendukung kemandirian pangan warga.
“Meski angka stunting di Tuban sudah menurun, upaya peningkatan kesehatan masyarakat harus tetap berjalan. Karena itu, kami konsisten menyelenggarakan program Cantik di Hati setiap tahun,” ujar Yuli Witantra, Sr. Officer CSR PRPP.
Menurutnya, Polindes memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi pola hidup sehat sekaligus mendorong penyediaan makanan sehat untuk keluarga, bahkan hingga ke tahap kemandirian pangan.
Dukungan serupa datang dari pemerintah setempat. Muhammad Syaifudin Zuhri, Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kecamatan Jenu, menegaskan bahwa penanganan stunting merupakan pekerjaan bersama yang melibatkan semua pihak.
“Langkah GRR Tuban sejalan dengan program kecamatan. Edukasi kesehatan seperti ini harus dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Selain penyerahan perangkat akuaponik, acara juga diisi dengan penyuluhan dari Puskesmas Jenu terkait higienitas makanan, serta pelatihan akuaponik dari Kampoeng Tani Tuban.
Kegiatan ini tidak hanya berlangsung di Desa Wadung, tapi juga di Desa Sumurgeneng dengan melibatkan lebih dari 70 kader Posyandu dan TP PKK.
Kepala Desa Sumurgeneng, Gihanto, mengapresiasi kepedulian perusahaan melalui program CSR yang konsisten.
Dia berharap kegiatan serupa terus berlanjut untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Program Cantik di Hati sendiri sudah berjalan sejak 2024. Selain mendukung pilar kedua Asta Cita tentang kemandirian pangan, program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
Khususnya TPB nomor 2 (Tanpa Kelaparan) dan TPB nomor 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). (*)
Editor : Yudha Satria Aditama