Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Angka Kemiskinan di Tuban: Turun, tapi Belum Menggembirakan

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 19 September 2025 | 05:47 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADARTUBAN – Data survei kemiskinan di Kabupaten Tuban yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) belum menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Persentase kemiskinan di Kota Legen masih menempati rangking lima besar terbawah se-Jawa Timur. Padahal, program penanganan kemiskinan terus dilakukan pemerintah daerah.

Persentase angka kemiskinan di Tuban masih menempati rangking lima besar terbawah se-Jawa Timur.

Padahal, program penanganan kemiskinan terus dilakukan pemerintah daerah.

Berdasarkan data BPS Tuban selama periode Maret 2024-Maret 2025, penduduk miskin di Tuban turun 0,23 persen atau menjadi 14,13 persen dari sebelumnya 14,36 persen.

Atau dari sebelumnya sebanyak 171,2 ribu jiwa pada Maret 2024 menjadi 168,9 ribu jiwa di Maret 2025.

‘’Jumlahnya memang menurun, tetapi belum ada lompatan yang cukup mengesankan dalam penurunan presentase penduduk miskin ini,” ungkap Kepala BPS Tuban Andhie Surya Mustari kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Diterangkan dia, penurunan angka kemiskinan di Tuban dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Di antaranya, berkurangnya tingkat pengangguran, laju inflasi yang relatif lebih terkendali dibandingkan periode sebelumnya, dan berjalannya beberapa program penanganan kemiskinan yang dicanangkan pemerintah daerah.

Lebih lanjut, Kepala BPS asal Bekasi itu mengatakan, penduduk miskin adalah mereka yang pengeluarannya di bawah garis kemiskinan.

Saat ini, garis kemiskinan di Tuban sebesar Rp 504.823 per kapita per bulan.

Angka tersebut naik sebanyak Rp 16.692 dibandingkan 2024 sebesar Rp 488.131.

‘’Kenaikan garis kemiskinan ini mengikuti laju inflasi atau perkembangan harga komoditas, baik makanan maupun non makanan di Tuban,” jelasnya.

Meski garis kemiskinan selalu bertambah setiap tahunnya, namun penduduk miskin yang sebelumnya sudah berada di bawah garis tersebut tidak selalu berada pada posisi yang sama.

Sementara itu, masyarakat yang sebelumnya tidak termasuk dalam kategori miskin bisa jadi pada tahun ini pengeluaran per kapitanya berada di bawah Rp 504.823, sehingga masuk kategori penduduk miskin.

‘’Kondisinya memang dinamis, jadi bisa saja berubah,’’ katanya.

Andhie menjelaskan, untuk mengurangi angka kemiskinan tidak bisa hanya fokus pada bantuan sosial.

Menurutnya, masih ada berbagai faktor yang perlu diperhatikan agar masyarakat Tuban lebih sejahtera.

‘’Salah satu faktor yang krusial untuk menurunkan angka kemiskinan salah satunya adalah peningkatan pendidikan. Selain itu, lapangan pekerjaan yang dibuka oleh industri yang ada di Tuban juga memengaruhi presentase kemiskinan ini,” tandasnya.

*)Tulisan ini merupakan koreksi dari berita yang terbit di koran Jawa Pos Radar Tuban edisi Jumat, 19 September 2025 berjudul: Program Penanganan Kemiskinan Dinilai Lambat. Terdapat disinformasi dalam judul dan angel berita tersebut. BPS hanya memaparkan data hasil survei kemiskinan di Kabupaten Tuban, bukan memberikan penilaian atas program penanganan kemiskinan Pemkab Tuban yang belum menunjukkan hasil menggembirakan.

Demikian koreksi dari redaksi Jawa Pos Radar Tuban.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Tuban #survei kemiskinan #turun #kemiskinan #Badan Pusat Statistik #Andhie Surya Mustari