RADARTUBAN – Pimpinan pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Tuban turut menanggapi adanya aksi konvoi oknum anggota perguruan silat yang meresahkan masyarakat pada Minggu (21/9) lalu.
Ketua IPSI Tuban Sugeng Widodo menegaskan, aksi konvosi sangat bertentangan dengan prinsip dan ajaran perguruan silat.
Insiden kerusuhan itu secara tidak langsung mencoreng citra pesilat.
‘’Mereka yang benar-benar menanamkan ajaran dalam perguruan silat, semestinya bisa berperan aktif di masyarakat, bahkan turut serta menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya masing-masing, bukan malah membuat kerusuhan yang kontradiktif dengan ajaran perguruan silat,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (22/9).
Pesilat yang juga Kepala SMAN 1 Bancar itu mendukung kepada masing-masing perguruan silat apabila ingin memberikan hukuman terhadap anggotanya yang berbuat kerusuhan. Dia menyarankan, hukuman itu bisa memberikan efek jera bagi pelaku.
‘’Hukuman harus sesuai porsi dan tindakan pelanggaran yang diperbuat, terlebih jika ada pesilat yang masih berusia pelajar, perlu adanya pendampingan,’’ beber dia.
Lebih lanjut, Sugeng turut mendukung langkah aparat kepolisian jika ditemukan adanya oknum pesilat yang melanggar hukum.
‘’Aturan hukum juga perlu ditegakan, kami mendukung langkah yang ditempuh aparat kepolisian,’’ tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 39 oknum pesilat dari Pagar Nusa diamankan Polres Tuban usai kedapatan melakukan aksi konvoi anarkis di sepanjang jalan protokol Tuban pada Minggu (21/9).
‘’26 dari 39 oknum pesilat yang kami amankan masih berusia di bawah umur,’’ ujar Kasat Reskrim Polres Tuban AKP Dimas Robin Alexander di hadapan awak media.
Seluruh oknum anggota pesilat beratribut perguruan silat dari Nahdlatul Ulama (NU) itu berasal dari wilayah Kabupaten Rembang, Bojonegoro, Nganjuk, dan Lamongan.
‘’Mereka kami data, dan bisa kembali ke rumah jika dijemput kedua orang tua atau keluarga,’’ pungkasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama