RADARTUBAN - Di hari yang sama saat keracunan di SMKN Palang terjadi Rabu (24/9), di Kecamatan Widang, salah satu orang tua siswa sekolah dasar (SD) melaporkan adanya ulat di menu MBG.
Dikonfirmasi ihwal laporan tersebut, Pengawas SPPG Mrutuk, Danramil Widang Kapten Inf. Hasan Bisri menegaskan, hewan yang ikut tersaji dalam ompreng MBG bukanlah belatung seperti yang ramai dibicarakan.
Melainkan ulat sayur yang ikut termasak dan tersaji di atas sawi matang dalam menu MBG.
Kejadian tersebut berawal ketika guru SDN 1 Compreng mendapatkan laporan adanya ulat di menu MBG dari salah satu siswanya.
Selanjutnya, bintara pembina desa (babinsa) menindaklanjuti laporan tersebut pada Koramil Widang.
‘’Setelah itu kami langsung melakukan cross check terkait informasi tersebut dan segera melakukan penarikan pada ompreng yang terdapat ulat sayur itu,” jelas Hasan.
Lebih lanjut dia menegaskan bahwa seluruh prosedur pengolahan, penyajian, hingga pendistribusian telah menggunakan alat maupun pakaian yang sesuai standar.
Sehingga, dia memastikan, bahwa tidak ada lagi ompreng yang terkontaminasi ulat maupun hewan kecil lainnya.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan, ulat hanya ditemukan pada satu ompreng di antara 2.963 ompreng yang didistribusikan oleh Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Mrutuk ke sekolah-sekolah di Kecamatan Widang.
‘’Saya menilai ini memang murni ketidaksengajaan. Pihak SPPG juga telah menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen agar kejadian ini tidak lagi terulang,” imbuhnya.
Selain evaluasi untuk SPPG, kejadian ini turut menjadi atensi pihaknya sebagai pendamping program nasional ini. Dia menyebut, pihaknya akan lebih meningkatkan pengawasan, terlebih hanya terdapat satu SPPG di daerah widang.
‘’Karena hanya ada satu ulat sayur, itupun sudah matang, jadi diperkirakan tidak ada dampak yang timbul jika terlanjur dikonsumsi,” tandasnya.
Sementara itu, Camat Widang Suwarsono juga membenarkan adanya kejadian temuan ulat di menu MBG tersebut.
Dia menyebut, ulat yang ditemukan sudah dalam kondisi mati karena ikut termasak saat proses perebusan sawi.
‘’Menu yang terdapat ulat sayur di dalamnya langsung kami ganti saat itu juga dengan makanan yang baru,” terang Suwarno.
Lebih lanjut, dia menegaskan, pihaknya telah memberikan peringatan pada pihak SPPG untuk lebih teliti dalam proses pengolahan makanan.
Dia juga menilai, peristiwa ini sekaligus menjadi bahan evaluasi agar kualitas program MBG tetap terjaga dan mengikuti standar operating procedure (SOP) yang ada.
‘’Sudah kami tekankan dan ingatkan sejak awal untuk lebih berhati-hati di proses pengolahan selanjutnya,” tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama