Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sebagian Wali Murid BAS Menolak MBG, tapi Malah Diancam Pindahkan Siswanya

M. Mahfudz Muntaha • Rabu, 8 Oktober 2025 | 04:05 WIB

 

Wali murid BAS Tuban menilai program makan gratis tak pantas untuk sekolah berbiaya tinggi.
Wali murid BAS Tuban menilai program makan gratis tak pantas untuk sekolah berbiaya tinggi.

RADARTUBAN – Serupa kasus wali murid di sekolah elit SDIT Al Izzah, Kota Serang, Banteng, yang menolak program makan bergizi gratis (MBG).

Di Tuban, sejumlah wali murid di lembaga pendidikan Bina Anak Sholeh (BAS) juga menolak penerapan program makan gratis untuk siswa tersebut.

Alasannya, selama ini sudah ada fasilitas makan siang untuk anak-anak yang include dengan biaya pendidikan.

Sehingga, sebagian orang tua merasa tidak perlu menerima bantuan MBG dari pemerintah.

Namun, upaya penolakan tidak membuahkan hasil.

Kabarnya, program MBG di sekolah elit tersebut tetap berlanjut.

AI, salah satu wali murid mengaku kecewa dengan keputusan yayasan yang tetap menerima program MBG.

Menurutnya, BAS yang notabene-nya merupakan sekolah elit—berbiaya mahal, semestinya tidak perlu menerima MBG.

’Toh selama ini para orang tua juga sudah membayar untuk makan siang anak-anak juga. Apa alasannya harus menerima MBG,’’ katanya.

AI menegaskan, semestinya pihak yayasan malah berterima kasih kepada wali murid yang mengusulkan agar menolak program MBG.

Sebab, penolakan sebagian orang tua ini merupakan bentuk kesadaran diri.

Sebab, ada yang lebih berhak menerima bantuan dari program yang menghabiskan anggaran triliunan tersebut.

Selain itu, terang AI, pihak yayasan juga tidak perlu repot-repot mengurusi MBG—yang dalam praktinya cukup rumit tersebut.

‘’Tapi ini aneh. Niat kami (menolak MBG) itu baik, tapi malah ditanggapi negatif oleh pihak yayasan. Bahkan, ada kata-kata yang sangat keras. Katanya, ‘kalau memang tidak mau menerima MBG, ya sudah keluar saja (dari BAS)’,’’ ujarnya menirukan ancaman yang disampaikan pihak lembaga kepada wali murid yang menolak program MBG.

Praktis, tidak ada pilihan lain bagi orang tua yang anaknya sudah kadung di sekolah tersebut. ‘’Akhirnya kami tidak bisa berkutik. Semua harus nurut dengan kebijakan yang sudah dibuat,’’ ungkapnya.

Tapi anehnya, lanjut AI, uang makan yang include dengan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) tidak berkurang.

‘’Dari SPP Rp 620 ribu, sebanyak Rp 300 ribunya itu diambil untuk makan siang anak-anak. Mestinya, kalau sudah menerima MBG, berarti sudah tidak ada uang makan. Tapi ini tidak ada potongan, SPP tetap sama. Alasannya, dialihkan untuk infaq,’’ bebernya.

AI berharap, pihak yayasan berubah pikiran agar tidak menerima program MBG. Sebab, ada yang lebih berhak menerima program tersebut.

‘’Harapan kami, yayasan bisa bijaksana dalam menanggapi usulan wali murid,’’ tandasnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis tadi malam, upaya konfirmasi ke pihak yayasan BAS belum membuahkan hasil.

Ketua Yayasan, Syafiq Syauqi enggan memberikan komentar ihwal penolakan program MBG dari wali murid tersebut. Pesan pertanyaan yang dikirim wartawan koran ini hanya dijawab dengan emoji menangkupkan kedua telapak tangan. (fud/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Mbg #yayasan #BAS