RADARTUBAN – Slogan “Tuban Bersih dan Hijau” tampaknya belum sepenuhnya sejalan dengan realita di lapangan.
Dua dari tiga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dimiliki Kabupaten Tuban ternyata belum memenuhi standar nasional.
Bukan cuma soal teknologi pengelolaan sampah, dua TPA itu bahkan tidak punya alat timbang—padahal alat ini krusial untuk mencatat volume timbunan sampah setiap hari.
Kondisi ini disorot tajam di tengah gencarnya pemerintah daerah mengampanyekan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Adalah TPA Jatirogo dan TPA Rengel yang belum punya fasilitas dasar tersebut.
Hanya TPA Gunung Panggung di Kecamatan Semanding yang memenuhi standar operasional.
“Karena belum ada timbangan, kami menghitung pakai pendekatan kapasitas alat angkut dikali jumlah ritasi harian. Jadi datanya masih perkiraan, belum benar-benar presisi,” ujar Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban, Arwin Mustofa ketika dikonfirmasi Radar Tuban.
Masalahnya bukan sekadar teknis. Ketika volume sampah tidak tercatat dengan akurat, sulit bagi pemerintah daerah menyusun strategi pengelolaan sampah yang efektif.
Apalagi, tanpa data yang presisi, perencanaan kapasitas TPA dan anggaran pengelolaan pun berpotensi meleset jauh dari kebutuhan riil.
Standar TPA Belum Terpenuhi
Arwin menyebut, standar nasional TPA bukan sekadar tempat menumpuk sampah.
Minimal harus memiliki sistem controlled landfill atau sanitary landfill, sistem pengumpulan air lindi, jarak aman minimal 1.000 meter dari permukiman, serta memperhitungkan kondisi geologi agar air tanah tidak tercemar rembesan limbah.
Faktanya, dua TPA yang ada di Jatirogo dan Rengel masih jauh dari kondisi itu.
“Kami masih dalam tahap desain tahun ini. Targetnya tahun depan pembangunan fasilitas tambahan bisa mulai dilakukan,” ucapnya.
Kabupaten Tuban saat ini mengandalkan tiga TPA untuk melayani wilayah luas:
- TPA Gunung Panggung: melayani wilayah utara dan tengah Tuban, dengan kapasitas sekitar 120 ton sampah per hari. TPA ini melayani wilayah Kecamatan Tuban, Semanding, Jenu, Tambakboyo, Palang, Merakurak, dan Kerek.
- TPA Jatirogo: mencakup wilayah barat seperti Kecamatan Jatirogo, Bancar, Kenduruan, Senori, Bangilan, Singgahan, dan Montong
- TPA Rengel: melayani wilayah selatan. TPA ini menerima sampah dari Kecamatan Rengel, Soko, Parengan, Plumpang, Grabagan, dan Widang.
Tanpa alat timbang dan sistem modern, beban dua TPA ini diprediksi bakal makin berat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas industri di berbagai kecamatan.
Bupati Tuban Mas Lindra dalam Sorotan
Situasi ini praktis menempatkan Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky atau yang akrab disapa Mas Lindra dalam sorotan.
Gencar berbicara soal pembangunan berkelanjutan dan penguatan infrastruktur lingkungan, tetapi fakta lapangan menunjukkan dua TPA strategis di wilayahnya belum memenuhi standar.
Kalangan pemerhati lingkungan bahkan mulai mendesak Pemkab bergerak lebih cepat dan konkret.
“Ini bukan sekadar urusan timbangan, ini menyangkut keakuratan data, efisiensi anggaran, dan masa depan kualitas lingkungan,” ujar salah satu aktivis lingkungan di Tuban, yang enggan disebutkan namanya.
Sorotan makin tajam karena masalah sampah kerap menjadi keluhan masyarakat.
Selain bau menyengat dan pemandangan kumuh, air lindi dari TPA yang tidak terkelola dengan baik berpotensi mencemari air tanah dan sungai sekitar.
Tantangan Serius, Butuh Aksi Nyata
Pemerintah daerah berjanji akan memperbaiki fasilitas dua TPA itu.
Namun, jika hanya mengandalkan anggaran bertahap, perbaikan bisa berjalan lambat.
Padahal, laju timbunan sampah jauh lebih cepat daripada proses pembenahan infrastruktur.
“Langkah-langkah peningkatan terus kami upayakan agar dua TPA bisa memenuhi standar nasional,” tandas Arwin.
Pertanyaan besarnya: seberapa serius Pemkab Tuban akan mengubah wajah pengelolaan sampahnya? Atau, publik akan kembali disuguhi janji-janji hijau tanpa realisasi nyata?
Sampah bukan cuma urusan kebersihan, tapi soal survival lingkungan jangka panjang.
Jika dua TPA strategis dibiarkan “seadanya”, bukan tidak mungkin krisis lingkungan menjadi bom waktu yang meledak di masa mendatang. (*)
Editor : Amin Fauzie