RADARTUBAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bikin heboh.
Ulat putih hidup merayap di atas nasi yang baru saja dibagikan ke siswa MAN 1 Tuban, Rabu (8/10).
Ironisnya, ini bukan kejadian pertama. Hanya berselang dua hari setelah kasus serupa di SMK TJP, ulat kembali jadi “bintang utama” di menu MBG.
Video temuan ulat itu viral di kalangan siswa. Dalam tayangan, terlihat food tray berisi nasi, sayur, ayam, kerupuk, dan potongan nanas.
Seekor ulat putih kecil tampak merayap dari bawah tumpukan nasi.
Si penerima MBG bahkan mengaku sudah sempat menyuap makanan itu sebelum menyadari “tamu tak diundang” itu.
“Mas… saya habis makan ini (MBG), habis itu ada… ah sudahlah,” kata siswa bertopi dan berseragam batik dalam video tersebut, disambut tawa getir teman-temannya.
Nanas Busuk dan Ulat Merayap
Bukan cuma ulat. Siswa juga mengeluhkan potongan buah nanas yang busuk dan asam.
“Tadi dapat nanas, tapi nanasnya banyak yang kecut basi,” kata seorang siswa yang enggan disebutkan namanya.
Temuan ini memicu keresahan. Program yang seharusnya mendukung pemenuhan gizi malah jadi bahan olok-olokan.
“Kalau begini terus, ini bukan makan bergizi, tapi makan berisiko,” celetuk seorang wali murid yang ditemui di depan sekolah.
SPPG Minta Maaf, Tapi…
Plt Kepala MAN 1 Tuban Qomaruddin membenarkan ada dua wadah makanan MBG yang ditemukan ulat di kelas sepuluh.
“Kalau saya melihat itu bukan belatung, tapi ulat sayur,” dalih Qomar.
Meski begitu, fakta bahwa makanan bermasalah masih beredar ke siswa tak terbantahkan.
“Dari pihak SPPG sudah datang dan meminta maaf, serta mengganti dua makanan yang ada ulat,” ujarnya.
Masalahnya, permintaan maaf bukan solusi jangka panjang. Ini bukan insiden tunggal—sudah terjadi berulang kali.
Namun hingga kini belum ada tanda-tanda evaluasi menyeluruh dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Evaluasi Setengah Hati
Qomaruddin meminta SPPG melakukan evaluasi masakan agar kasus ini tidak terulang.
Tapi publik mulai lelah dengan pola yang sama: insiden–viral–klarifikasi–minta maaf–ulang lagi.
“Koordinasi dan perbaikan itu perlu, jangan cuma datang minta maaf lalu anggap selesai,” tegasnya.
Program MBG di Tuban diluncurkan dengan janji muluk: memberi gizi baik bagi pelajar.
Tapi fakta di lapangan, pengawasan kualitas pangan masih compang-camping.
Dari nasi berulat, buah busuk, hingga distribusi tak higienis, kasus demi kasus terus muncul.
Pemerintah daerah tak bisa lagi menutup mata. Jika SPPG tak diperbaiki, MBG bukan lagi program unggulan—tapi aib pelayanan publik. (*)
Editor : Amin Fauzie