RADARTUBAN – Sungai di Kabupaten Tuban kini bukan lagi sekadar aliran air, tapi “kolam bakteri”.
Indeks Kualitas Air (IKA) tahun 2024 jeblok di angka 58,72 persen, meleset dari target 59,86 persen.
Penyebab utamanya? Ledakan bakteri Escherichia coli (E. coli) yang mencemari sejumlah titik sungai strategis.
Ironisnya, banyak sumber pencemar justru berasal dari perilaku masyarakat sendiri.
Bakteri ‘Pesta’ di Sungai
Kepala Bidang Tata Lingkungan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban, Andi Setiawan, mengungkapkan hasil uji sampel dari enam titik di tujuh sungai: Sungai Bektiharjo, Srunggo, Banyulangseh, Silowo, Bengawan Solo, Kali Kening, dan Nglirip.
“Hasilnya, kadar E. coli di beberapa titik melampaui ambang batas baku mutu air,” tegas Andi kepada Radar Tuban.
Menurutnya, perilaku masyarakat menjadi biang utama—mulai dari buang air sembarangan di sungai, pembuangan sampah, hingga kebiasaan membiarkan limbah rumah tangga mengalir begitu saja.
Saat debit air menyusut di musim kemarau, bakteri kian pekat dan uji laboratorium menunjukkan pencemaran kian berat.
Delapan Parameter Kritis
Penilaian IKA sendiri didasarkan pada delapan parameter utama: pH, BOD, COD, TSS, DO, nitrat, fosfat, dan fecal coliform.
Pengambilan sampel dilakukan dua kali setahun—musim hujan dan kemarau—untuk mendapatkan nilai rata-rata.
“Air sungai di Tuban tidak ideal untuk air minum. Walau ketersediaan air bersih sudah cukup, potensi bakteri tetap ada,” jelas Andi, pejabat asal Lumajang itu.
Fakta Kunci:
- Target IKA 2024: 59,86 persen
- Realisasi IKA: 58,72 persen
- Penyebab utama: Bakteri E. Coli melebihi ambang batas
- Sungai terkontaminasi: Bektiharjo, Srunggo, Banyulangseh, Silowo, Bengawan Solo, Kali Kening, Nglirip
- Parameter penilaian: 8 komponen utama (pH, BOD, COD, TSS, DO, nitrat, fosfat, fecal coliform)
Alarm Perubahan Perilaku
DLHP menyebut perubahan kecil bisa berdampak besar. Tidak buang sampah dan tidak buang air sembarangan di sungai bisa mendongkrak indeks kualitas air.
“Kalau perilaku masyarakat berubah, kami yakin indeks kualitas air bisa meningkat di tahun ini,” tandasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni