RADARTUBAN – Proses pembelajaran di dalam ruang kelas Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Kabupaten Tuban 18 mulai berlangsung pekan ini.
Namun, kekosongan kursi pasca mundurnya dua siswa pada lembaga pendidikan tersebut hingga kini belum sepenuhnya terisi.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tuban hingga kemarin (10/10), dari kekosongan sepeninggal dua siswa jenjang SMA yang resmi mengundurkan diri pada pekan awal September lalu karena tidak betah tinggal di asrama, baru satu kursi yang terisi sementara satu kursi lainnya masih kosong.
"Satu kursi yang terisi berasal dari data PKH dan kebetulan yang bersangkutan sebelumnya tidak sekolah, prosesnya sama seperti siswa-siswa lainnya,’’ ungkap Kepala SR Terintegrasi 18 Kabupaten Tuban Vera Khairun Nissa kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Disampaikan Vera, hingga mulai berlangsungnya proses kegiatan pembelajaran di dalam kelas pada pekan pertama ini, pihaknya tak kunjung mendapatkan pengganti siswa yang sebelumnya mengundurkan diri.
"Kami akhirnya memutuskan untuk tidak mencari pengganti, apalagi saat ini kegiatan pembelajaran telah berlangsung, dikhawatirkan jika siswa pengganti ini masuknya terlambat akan ketinggalan jauh dengan teman-teman lainnya,’’ beber dia.
Kendala dalam mencari siswa pengganti tak hanya mengacu pada data PKH, namun juga menyamakan ketersediaan seragam sepeninggal dua siswa sebelumnya.
Kedua siswa yang memilih berhenti bersekolah di SR meliputi satu siswa dan satu siswi yang sama-sama dari jenjang SMA.
Satu siswa asal Kecamatan Palang mengundurkan diri secara resmi per 6 September, sementara satu siswi asal Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban mengundurkan diri per 13 September.
Kursi sepeninggal satu siswa laki-laki telah terisi yang penggantinya juga siswa laki-laki, sementara siswi perempuan belum mendapatkan pengganti hingga saat ini.
"Kalau bisa penggantinya ya tetap perempuan, karena seragam yang saat ini tersedia untuk siswi perempuan. Jika yang masuk laki-laki, kami yang bingung harus melakukan pengadaan baru,’’ pungkasnya. (an/tok)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni