RADARTUBAN - Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan hidup yang kian menjepit, Khoirun Nisa memilih untuk lebih peduli dan memperluas wawasan terhadap isu kesehatan mental.
Bagi perempuan 24 tahun itu, menjaga kesehatan mental bukan sekadar tren, namun juga sebagai bentuk cinta terhadap diri sendiri.
‘’Sekarang tekanan sosial semakin besar, apalagi adanya media sosial membuat kita sering membandingkan diri dengan orang lain. Kalau mental tidak dijaga, semuanya bisa berantakan, mulai dari produktivitas sampai hubungan dengan orang di sekitar,” ujar Nisa, sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Sebegai generasi Z, Nisa saat ini lebih memilih cara yang alami dan menenangkan untuk menstabilkan kesehatan mentalnya.
Mulai dari healing trip, jalan-jalan, atau sekadar keluar dengan teman-temannya.
Alumni Universitas Brawijaya itu mengatakan, di era saat ini datang ke psikolog bukan hal yang memalukan.
Sesi konseling dengan tenaga profesional bukan berarti tidak sehat, melainkan sebagai bentuk menjaga kesehatan mental diri sendiri.
‘’Saat ini tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater mulai dibutuhkan, aku membayangkan kalau di Tuban banyak praktik konseling kesehatan mental, mungkin akan lebih baik,” tuturnya.
Pertimbangan tersebut didasarkan pada cerita teman-temannya yang membutuhkan terapi kejiwaan.
Menurut dara asal Kecamatan Tambakboyo itu, kesehatan mental justru menjadi fondasi kebahagiaan dan produktivitas dalam menjalani kegiatan sehari-hari.
‘’Aku sebelumnya pernah menjalani pengobatan, dan itu bagian dari penyembuhan dan kepedulianku terhadap diri sendiri,” katanya.
Untuk menambah wawasan, alumni SMAN 2 Tuban itu sering mendengarkan berbagai konten media sosial mengenai isu kesehatan mental.
Salah satunya dari The Holistic Psychologist. Konten ini membahas mental health dengan bahasa ringan dan relevan bagi Gen Z.
‘’Wawasan isu kesehatan mental itu bukan hanya untuk penyintas, tetapi masyarakat luas juga harus banyak menambah pengetahuan dari isu ini agar memahami dan menghilangkan stigma jika kesehatan mental itu tidak sepenting kesehatan fisik,” katanya.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama