RADARTUBAN – Dua kali bikin gaduh, SPPG Tambakboyo Putra Jaya Kitchen seolah belum belajar dari kesalahannya.
Setelah delapan siswa SMKN 1 Tambakboyo tumbang akibat diduga keracunan makanan pada Selasa (14/10), SPPG ini berada di ujung tanduk. Izin operasionalnya terancam dicabut.
Dapur yang berlokasi di Desa Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo itu bukan kali pertama bikin geger.
Sebelumnya, SPPG ini membuat masalah dengan menunya berbelatung pada 14 Juli lalu.
Alih-alih berbenah, kali ini malah muncul kasus baru yang lebih serius hingga membuat delapan pelajar harus dirawat di puskesmas. Kepercayaan terhadap SPPG ini pun kian menurun.
“Pertama belatung, kedua malah membuat anak sekolah masuk puskesmas. Saya khawatir bahkan was-was jika anak saya makan MBG,” ungkap SU, inisial salah satu orang tua siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan.
SU menilai sudah saatnya program ini dievaluasi total. “Kalau kesalahan sudah dua kali, saya rasa bukan kelalaian, tapi ada sistem atau SOP yang tidak dijalankan dengan baik,” tegasnya.
Pasca kasus keracunan itu, SPPG Putra Jaya Kitchen langsung dibekukan.
Seluruh kegiatan penyajian menu MBG dihentikan sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Sementara itu, Danramil Tambakboyo Kapten Arm Teguh Hariwibowo memastikan proses penyelidikan masih berlangsung. Jika terbukti lalai, sanksinya tak main-main.
“Bahkan konsekuensi terburuknya bisa sampai pencabutan izin pendirian SPPG,” tegasnya.
Kapten Teguh juga menyoroti lemahnya penerapan standar operasional di dapur tersebut.
Selain soal pengawasan, pihaknya menekankan pentingnya kepemilikan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) sebagai syarat mutlak penyedia makanan publik.
“Informasi yang saya himpun, SPPG yang bersangkutan belum memiliki SLHS dan masih proses mengurus,” pungkasnya. (an/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni