RADARTUBAN – Hujan deras sudah mengguyur sebagian wilayah Tuban, namun bukan berarti musim hujan benar-benar telah datang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban memastikan, guyuran yang turun di Bumi Ronggolawe sejak Selasa (21/10) sore itu belum memenuhi syarat ilmiah untuk disebut awal musim penghujan.
Kepala BMKG Tuban Muchammad Nur mengatakan, meski langit tampak mendung dan hujan mulai rutin turun di beberapa kecamatan, itu belum bisa dijadikan patokan.
“Seharusnya memang sudah mulai mendekati awal musim hujan jika dilihat dari prediksi sebelumnya. Namun, kami masih perlu memantau lebih lanjut apakah syarat penentu awal musim hujan sudah terpenuhi,” ujarnya.
BMKG punya ukuran pasti.
Nur menjelaskan, musim hujan baru bisa dinyatakan resmi dimulai jika curah hujan mencapai lebih dari 50 milimeter dalam satu dasarian (sepuluh hari) dan disusul dua dasarian berikutnya secara berturut-turut.
“Kalau baru satu dua kali hujan deras, itu belum cukup,” terangnya.
Menurutnya, kondisi atmosfer saat ini masih dipengaruhi pola angin timuran dan suhu muka laut di perairan utara Jawa yang belum sepenuhnya mendukung pembentukan awan hujan merata.
“Jadi, hujan kemarin lebih bersifat lokal dan temporer, bukan indikasi masuknya musim hujan secara keseluruhan,” imbuhnya.
BMKG memprediksi, Tuban baru benar-benar masuk musim hujan di akhir Oktober hingga awal November.
Tergantung pergerakan angin monsun dan dinamika cuaca regional.
Nur juga mengingatkan agar masyarakat tidak lengah. Justru pada masa peralihan seperti sekarang, cuaca cenderung lebih ekstrem.
“Pada masa pancaroba seperti ini potensi hujan disertai petir dan angin kencang masih cukup tinggi. Kami mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati terutama bagi nelayan dan petani,” tuturnya.(fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama