Kembalikan Lapangan Gersang Menjadi Danau Penjaga Kehidupan
Bukit kapur Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang dulu tandus, kini mata airnya memancar lagi.
SEMUA bermula dari satu orang bernama Aksin. Dia adalah kepala Desa Pekuwon yang tidak lelah menanam, meski sempat ditertawakan. Selama 26 tahun, dia berjuang melawan gersang dan menang.
Aksin juga berhasil meyakinkan warganya dalam menjaga sumber air di desanya. Hasilnya kini bisa dilihat. Danau kembali hidup di atas bukit kapur.
Saat ditemui di ketinggian sekitar 80 meter dari permukaan laut, Aksin tampak sibuk menanam pohon. Tangannya cekatan menggali lubang. Satu demi satu.
Baca Juga: ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas : Menjaga Cahaya dari Desa Jelu
Sekitar 250 lubang disiapkan hari itu. Di lahan satu hektare miliknya, deretan pohon kayu dan buah sudah lebih dulu tumbuh subur.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, air mengalir deras dari sebuah gua kecil. Dari situlah 1.200 rumah tangga di Desa Pekuwon mendapatkan air bersih.
Puluhan pipa menyalurkannya ke rumah warga. Sebagian lagi ditampung menjadi danau kecil bernama Danau Ngerong Pekuwon.
Setiap kali menatap Gunung Bawang, gunung kecil yang jadi sumber air, dia seperti terlempar pada masa lalunya sendiri.
“Dulu di sini penuh dengan pohon,” kenangnya lirih. “Saya sering mandi di sumber air itu.”
Tahun 1998 segalanya berubah. Pohon-pohon di Gunung Bawang habis ditebang. Lahan gundul. Air mengering. Danau berubah jadi lapangan sepak bola.
“Saat itu sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Titik balik datang pada 2008. Pemerintah pusat menggulirkan program rehabilitasi lahan.
Aksin, saat itu pemuda karang taruna bergerak cepat. Dia mengajak warga menanam kembali. Tapi, jalan tak mudah. Bibit mati. Sebagian warga menolak.
Namun, Aksin tak mundur. “Alhamdulillah waktu itu keluarga juga mendukung,” katanya. Langkah kecil itu pelan-pelan jadi gerakan besar.
Setelah menjadi perangkat desa, dia semakin leluasa menanam dan mengajak. Saat terpilih sebagai kepala desa, Aksin mengambil keputusan berani: lahan di sekitar sumber air yang dulu milik kakek-neneknya dialihkan menjadi aset desa.
“Sumber air harus dijaga untuk kepentingan umum,” tegasnya.
Tahun 2018 air kembali mengalir. Lapangan kering berubah lagi jadi danau. Warga Pekuwon tak lagi kesulitan air. Tapi bagi Aksin, itu belum cukup. Dia ingin Gunung Bawang kembali lebat.
Dukungan berdatangan. Salah satunya dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Blok Cepu yang pipa minyaknya melintas di desa itu.
EMCL tak hanya memberi bantuan infrastruktur, tapi juga menanam kesadaran. “EMCL komitmennya bagus, kami sangat terbantu,” kata Aksin sumringah.
Bantuan pohon, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan terus digulirkan. “Pohon yang hari ini saya tanam juga bantuan dari EMCL,” ujarnya.
Kini, mata air di kaki Gunung Bawang kembali deras. Danau kecil itu bukan hanya jadi sumber kehidupan, tapi juga saksi bahwa ketekunan dan keyakinan bisa menumbuhkan kembali yang pernah hilang.
Aksin hanya tersenyum. Dia tahu, perjuangannya belum selesai. “Ini untuk anak cucu nanti,” ujarnya.(Ukay Sukaya Al Maliky)
Editor : Dwi Setiyawan